Minggu, 11 Agustus 2013

On The Way Ied 2013


Assalamualaikum wr. wb.
Bagaimana kabar kawan-kawan semua? Baik-baik saja bukan? Alhamdulillah…
Mumpung masih bisa menyentuh keyboard ini saya ingin berbagi sedikit cerita.

Sembilan Tahun Tak Pulang
Alhamdulillah, tahun ini saya, bapak, ibu, dan kedua adik saya akhirnya bisa juga mudik ke Ciamis. Tepatnya di sebuah desa terpencil di pedalaman Padaherang, Ciamis. Yaitu, desa Cibogo. Setelah sembilan tahun saya dan ibu saya tak berkunjung ke sana.

Terakhir kami ke sana adalah ketika kakek kami, Abdul Rojak berpulang kepada Rabb Yang Maha Hidup karena stroke yang dideritanya beberapa tahun belakangan saat itu. Ketika itu saya masih kelas dua SD, adik saya Husni masih berumur tiga bulan. Malam itu bapak saya di telpon oleh nenek bahwa Aki Ojak sedang kritis-Aki’ adalah sebutan untuk kakek. Dan malam itu juga, saya, bapak, ibu, Husni, dan paman saya yang masih SMA di Jogja bergegas mengemasi barang-barang.

Di seberang jalan depan rumah, kami menanti bus yang mungkin bisa mengantar kami untuk pergi ke kampung halaman. Akhirnya datang juga bus itu, kami berangkat dari Jogja pukul 00.00

Kebetulan bus kami ber-AC, malam yang dingin dan penuh khawatir itu menjadi semakin dingin dan kalut. Pukul 03.00 bapak dapat telpon dari Wak Ida, Wak adalah sebuatan kakak dari ayah atau ibu. Wak Ida memberi kabar bahwa kakek sudah berpulang. Dan bapak meminta supaya jangan memberi tahu Mang Pipin, pamanku terkecil.

Ya, saya yang saat itu hanya tahu hidup itu tidak mati, dan mati itu tidak hidup hanya diam menikmati mabuk kendaraan dalam bus.

Pukul 09.00 kami tiba di rumah, kami disambut haru oleh saudara dan kerabat di halaman rumah. Semua menangis, berpelukan, penuh dengan bisikan kata-kata yang menegarkan. saya bingung. Saya hanya digandeng oleh ibu dan dibawa masuk ke rumah untuk melihat jasad kakek yang terakhir kalinya.

“Cium kakek, Nak!” perintah ibu. Dengan takut-takut, kukecup beliau untuk yang terakhir kalinya.

Pukul 10.00 kakek segera dimakamkan di pemakaman keluarga yang letaknya tak jauh dari rumah.
I
tulah terakhir kalinya saya pulang sebelum mudik tahun ini. Sebagai anak yang dilahirkan di kampung yang kecil itu, mungkin saya terlalu tega sampai tak pulang selama sembilan tahun!

Tapi saya dan ibu tak pulang bukan tanpa alasan. Ada masalah keluarga yang membuat kami enggan untuk pulang. Nenek kami menikah lagi! Ya Rabb, bapak marah besar saat itu. Ia pulang hanya untuk marah-marah pada nenek. Toples pun ikut dibanting, katanya.
Bukan masalah orangnya tapi yang jadi masalah adalah menikahnya. Bapak dan adik dari kakek- jadi bibinya bapak, masih berpikir bahwa tega sekali nenek menikah lagi. Rumah yang dibangun dengan kerja keras Aki Ojak, penuh perjuangan, rumah yang masih baru itu kini ditempati nenek dengan laki-laki lain. Ya Rabb, dan kemarin kami datang, rumah itu pun belum ada perubahan, tak makin bagus tapi makin lusuh. Lebih rapi ketika Aki Ojak masih ada.

Ziarah dan Wasiat Tersembunyi
Tujuan saya pribadi ikut dalam mudik ini adalah ingin berziarah ke makam kakek yang sembilan tahun tak pernah ikut merawat, apa lagi membersihkan.
Hari Kamis, pukul 21.00 kami tiba di rumah nenek. Dengan oleh-oleh buah salak pondoh yang di sana tidak ada, di sana hanya ada salak Tasik yang rasanya sepet tak seperti salak pondoh yang manis.

Tahun ini Mang Pipin tak pulang, ia memilih berlebaran di kapal. Yang pulang adalah Mang Yayat, yang mungkin rindu pada anak dan istri juga ibunya. Mereka telah tiba lebih dulu dari kami. Jika mereka siang, kami malam baru sampai. Maklum, Jogja-Ciamis lebih jauh dari Brebes-Ciamis. Ditambah dengan jalan yang dikeruk. Entahlah saya bingung dengan pemerintah Indonesia. Sudah tahu mau lebaran, pasti banyak yang berkendara, eh ini kurang kerjaan jalan sudah bagus malah dikeruk. Sedangkan di Cilacap jalan yang berlubang-lubang itu tak kunjung diperbaiki. Sampai oleh warga lubang-lubang itu ditutup dengan batu, gerobak, gedebog pisang. Tujuannya agar pengemudi tidak melewati lubang itu dan sebagai bentuk protes warga juga tentunya. Jalan ini terlihat semrawut, bapak pun harus berhati-hati menyetir di sini, mobil kami merayap zig-zag menghindari batu-batu itu.
Jum’at lalu, pukul 10.00 tujuan utama kami laksanakan, ziarah ke makam Aki Ojak. Makam yang telah berumur sembilan tahun itu, tak lebih dari makam sederhana berupa gundukan tanah yang tepinya diberi susunan batu, dua batu tertancap di ujung utara dan selatan, di atas gundukan tanah itu ditanami bunga warnanya merah yang saya tak tahu namanya. Letaknya berada di antara kebun-kebun singkong, jika dari jauh ini tak terlihat seperti makam karena tertutup oleh pohon-pohon singkong dan bambu. Tak ada jalan utama untuk menuju makam ini, kami pun harus mblasak-mblasak kebun singkong agar bisa berziarah. Posisinya berada pada tanah lereng, jadi miring gitu deh. Ya, itulah pamakaman keluarga kami, yang di situ juga buyut-buyut saya dimakamkan.

Saya, bapak, ibu, adik-adik, Mang Yayat beserta istri dan anaknya tak lupa Rizki keponakan saya yang mengekor kami ikut berdoa, doa yang tulus, doa yang benar-benar dari hati saya untuk kakek tercinta. Di bawah pohon bambu, di tengah-tengah kebun singkong, dan dihadapan makam ini saya masih merasakan kasih sayang dari Aki Ojak.

Pikiran saya langsung terbang beberapa tahun silam, ketika Aki Ojak masih ada, ketika saya pulang kemudian disambutnya dengan gendongan dan kecupan hangat. Ketika yang dimasak adalah ayam yang dulu saya tak doyan, Aki Ojak langsung menangkapkan ikan mas di kolam belakang rumah. Diajaknya bercanda, dipangkunya, sungguh indah.

Ketika saya lahir bukan bapak yang adzan di telinga kanan saya dan iqomah di telinga kiri saya, bukan bapak tapi Aki Ojak. Sebab saat itu, bapak masih dalam perjalanan dari Malang, dari berdagang mencari nafkah. Sedikit cerita, karena rezeki yang belum cukup saat itu saya belum di aqiqah sampai saat ini. “Besok saja sekalian kalau kamu nikah,” kata ibu. Hahaha, butuh waktu yang tak pendek untuk menunggu saya menikah.

Setelah selesai shalat jum’at dan yang perempuan sudah shalat dzuhur kami bersilaturahmi ke rumah bibinya bapak. Bi Titik namanya, kalau saya manggilnya Nenek Titik. Rumahnya tidak jauh dari rumah kami, hanya beda desa. Jalan yang gronjal-gronjal membuat perjalan kami tersendat, tak berubah dari sembilan tahun lalu.

Layaknya jalan-jalan di desa, kanan sawah kiri sawah, kadang kolam, kadang rawa. Di sana juga ada pondok pesantren putri salafi bercadar, tapi saya tak tahu namanya.
Mungkin lima belas menit kami tiba di rumah Nenek Titik. Semua bersalaman, tak terkecuali saya. Saya yang paling lama bersalaman dengan beliau, sampai dipeluknya. “Iye teh Eneng? Ya Allah Neng sembilan tahun nggak ke sini…” rintihnya sambil bercucur air mata.

Saya sendiri bingung, ini kenapa? Ketemu ya seneng dong, bukan malah nangis. Semua duduk di luar, di teras rumah Nenek Titik. Sedangkan bapak berada di dalam bersama suami Nenek Titik, Nenek Titik, dan saya. Kami ngobrol ngalor-ngidul, ditemani kue kacang yang dulu ketika kecil saya sangat menyukainya.

“Nih Neng, kue kacang kesukaan Eneng,” Ya Allah masih inget aja, itu kan udah sembilan tahun yang lalu.

“Yang ini masukin mobil ya! Buat Eneng nanti di Jogja, sok masukin!” saya menurut saja. Subhanallah banget di bumi ini saya masih menemukan orang yang menyayangi saya sampai seperti ini, masih ingat makanan kesuskaan saya ketika kecil.

Semua cerita masih tentang keluarga kami, masalah-masalah keluarga kami, tentang Aki Ojak. Sampai tiba pada suatu pembicaraan yang saya tak mengerti karena orang-orang ini berbicara dengan Bahasa Sunda. Meskipun saya lahir di Sunda tapi tiga bulan kemudian saya langsung diboyong ke Jogja, jadi belum sempat belajar Bahasa Sunda. Tapi ada kata-kata ‘Eneng’, ‘Aki Ojak’, ‘wasiat’. Berarti ngomongin saya. Hayo ada apa?

Kalau saya menerka mungkin begini, dulu Aki Ojak berwasiat kepada Nenek Titik suruh jaga saya baik-baik. Setelah di dalam mobil, saya bertanya pada bapak, “Pak Nenek Titik tadi ngomong apa?”

“Dulu, waktu Aki’ Ojak masih bisa ngomong Aki Ojak nitipin kamu ke Nenek Titik, mau dititipin ke Nenek Titik?” saya hanya tersenyum. Ya Rabb, betapa sayang kakek kepada saya sangat besar, sampai sebelum meninggal pun sempat memikirkan cucunya yang jauh ini. Mungkin titip di sini bukan berarti harus tinggal bersamanya, tapi titip sayangi saya.

Ya, sayangnya Aki Ojak masih bisa saya rasakan dari Nenek Titik dalam hangat peluknya. Sebelum saya dan keluarga berpamitan dari rumah Nenek Titik beliau berpesan. Hanya satu pesannya, “Sing pinter, Neng!” subhanallah, dari sini saya menemukan semangat baru. Meski agak jauh saya belajar, meski susah saya belajar. Nanti, ketika sukses itu datang bukan hanya saya yang bahagia tetapi keluarga besar di kampung sana juga ikut bahagia. Dan sebaliknya ketika hancur bukan hanya saya yang kecewa tapi mereka juga ikut kecewa. Ya Rabb kuatkan saya.

Di sana semua mendoakan, “Sing pinter sakolahna, Neng! Biar nanti bisa jadi ustadzah, jadi dosen, mencerahkan masyarakat.” Itulah doa dari Wa’ Onah, kerabat dekat kami juga. Ya Allah, di sana pokoknya kalau ketemu orang yang keluar dari mulut mereka adalah doa. “Ya Allah, Eneng. Udah perawan sekarang.” Itu ucapan pertama yang dilanjutkan dengan obrolan kemudian akhirnya “Sing pinter sakolahna, Neng!”

Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas semuanya. Saya pun mohon doa pada pembaca sekalian. Semoga kita sama-sama sukses nantinya, nanjah ma’an!
S
ebetulnya saya masih ingin bercerita tentang mobil bapak yang ritingnya ringsek gara-gara nabrak LGX waktu macet di Gombong jl. Yos Sudarso nomer 600 berapa gitu. Juga kami yang pulang melalui jalur pantai, asik sekali pokoknya. Tapi saya belum mandi dan waktu juga sudah semakin sore. Jadi sampai sini dulu ceritanya yaa..

Semoga bermafaat. Saya juga mengucapkan terima kasih bagi siapa pun yang sudah mau membaca catatan ini. Tak bisa membagi oleh-oleh berupa makanan, maka inilah oleh-oleh untuk kawan semua.

Wassalamualaikum wr. wb.






  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar