Kamis, 27 April 2017

Work Shop Bersama Tere Liye

Assalamu'alaikum teman-teman.. Ada work shop kepenulisan nih.. Hanya di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Prambanan.. Teman teman jangan lupa datang yaa.. Jangan sampai terlewatkan.. Mumpung masih dekat.. Masih di sekitaran Jogja.. Segera merapat.. Fina tunggu kehadiran teman teman di Baitussalam yaa.. 😳😳😳

Rabu, 14 Agustus 2013

Coret Moret

Assalamualaikum wr. wb.

Kawan, tahukah kau? Istiqomah itu susah... sukses itu juga susah. Dan kini saya tengah berada dalam pahitnya perjuangan bertahan dalam istiqomah itu menuju sukses...

Kali ini saya tak ingin menulis banyak. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya punya banyak hutang. Ya, hutang kesuksesan!

Tentunya kepada kedua orang tua saya, Bapak dan Ibu yang telah memberi saya berjuta kasih sayangnya juga selalu ada ketika saya butuh apa pun.

Kepada kedua paman saya, Mang Yayat dan Mang Pipin yang kadang-kadang saya merepotkan mereka.

Kepada keluarga besar saya, Nenek Titik, Wa' Onah, Mak Aen, dan lain-lain yang telah ikhlas mendukung dan mendoakan saya agar saya bisa menjadi dosen nantinya, agar bisa menjadi ustadzah yang mampu mencerahkan masyarakat.

Kepada orang tua asuh saya, Bapak Agus Sugeng Setiawan. Yang kami belum pernah bertatap muka, bertegur sapa secara langsung. Beliau selalu ada ketika kami butuh.. Maaf, saya belum mampu membalas kebaikan bapak. Dan saya tak mengerti dengan apa saya harus membalas jika tidak dengan kesuksesan nanti...

Kepada Ustadz H. Khoirul Fata, Lc., yang entah mengapa saya merasa punya hutang sukses pada beliau. Ustadz yang saya belum pernah bertemu dengannya..

Ya Rabb, sungguh saya ingin mempertahankan istiqomah ini! Izinkan saya khusnul khotimah nantinya ya Rabbi... Amiin

Maka, alangkah bodohnya jika saya bersekolah tetapi ilmu yang diberikan tak mampu diserap apa lagi diamalkan nantinya.. Orang-orang di atas adalah segelintir motivasi saya. Terima kasih Engkau telah memberikan mereka sebagai anugrah dalam diri saya, menjadi bagian dalam hidup saya...

Wassalamualaikum wr. wb.

Minggu, 11 Agustus 2013

On The Way Ied 2013


Assalamualaikum wr. wb.
Bagaimana kabar kawan-kawan semua? Baik-baik saja bukan? Alhamdulillah…
Mumpung masih bisa menyentuh keyboard ini saya ingin berbagi sedikit cerita.

Sembilan Tahun Tak Pulang
Alhamdulillah, tahun ini saya, bapak, ibu, dan kedua adik saya akhirnya bisa juga mudik ke Ciamis. Tepatnya di sebuah desa terpencil di pedalaman Padaherang, Ciamis. Yaitu, desa Cibogo. Setelah sembilan tahun saya dan ibu saya tak berkunjung ke sana.

Terakhir kami ke sana adalah ketika kakek kami, Abdul Rojak berpulang kepada Rabb Yang Maha Hidup karena stroke yang dideritanya beberapa tahun belakangan saat itu. Ketika itu saya masih kelas dua SD, adik saya Husni masih berumur tiga bulan. Malam itu bapak saya di telpon oleh nenek bahwa Aki Ojak sedang kritis-Aki’ adalah sebutan untuk kakek. Dan malam itu juga, saya, bapak, ibu, Husni, dan paman saya yang masih SMA di Jogja bergegas mengemasi barang-barang.

Di seberang jalan depan rumah, kami menanti bus yang mungkin bisa mengantar kami untuk pergi ke kampung halaman. Akhirnya datang juga bus itu, kami berangkat dari Jogja pukul 00.00

Kebetulan bus kami ber-AC, malam yang dingin dan penuh khawatir itu menjadi semakin dingin dan kalut. Pukul 03.00 bapak dapat telpon dari Wak Ida, Wak adalah sebuatan kakak dari ayah atau ibu. Wak Ida memberi kabar bahwa kakek sudah berpulang. Dan bapak meminta supaya jangan memberi tahu Mang Pipin, pamanku terkecil.

Ya, saya yang saat itu hanya tahu hidup itu tidak mati, dan mati itu tidak hidup hanya diam menikmati mabuk kendaraan dalam bus.

Pukul 09.00 kami tiba di rumah, kami disambut haru oleh saudara dan kerabat di halaman rumah. Semua menangis, berpelukan, penuh dengan bisikan kata-kata yang menegarkan. saya bingung. Saya hanya digandeng oleh ibu dan dibawa masuk ke rumah untuk melihat jasad kakek yang terakhir kalinya.

“Cium kakek, Nak!” perintah ibu. Dengan takut-takut, kukecup beliau untuk yang terakhir kalinya.

Pukul 10.00 kakek segera dimakamkan di pemakaman keluarga yang letaknya tak jauh dari rumah.
I
tulah terakhir kalinya saya pulang sebelum mudik tahun ini. Sebagai anak yang dilahirkan di kampung yang kecil itu, mungkin saya terlalu tega sampai tak pulang selama sembilan tahun!

Tapi saya dan ibu tak pulang bukan tanpa alasan. Ada masalah keluarga yang membuat kami enggan untuk pulang. Nenek kami menikah lagi! Ya Rabb, bapak marah besar saat itu. Ia pulang hanya untuk marah-marah pada nenek. Toples pun ikut dibanting, katanya.
Bukan masalah orangnya tapi yang jadi masalah adalah menikahnya. Bapak dan adik dari kakek- jadi bibinya bapak, masih berpikir bahwa tega sekali nenek menikah lagi. Rumah yang dibangun dengan kerja keras Aki Ojak, penuh perjuangan, rumah yang masih baru itu kini ditempati nenek dengan laki-laki lain. Ya Rabb, dan kemarin kami datang, rumah itu pun belum ada perubahan, tak makin bagus tapi makin lusuh. Lebih rapi ketika Aki Ojak masih ada.

Ziarah dan Wasiat Tersembunyi
Tujuan saya pribadi ikut dalam mudik ini adalah ingin berziarah ke makam kakek yang sembilan tahun tak pernah ikut merawat, apa lagi membersihkan.
Hari Kamis, pukul 21.00 kami tiba di rumah nenek. Dengan oleh-oleh buah salak pondoh yang di sana tidak ada, di sana hanya ada salak Tasik yang rasanya sepet tak seperti salak pondoh yang manis.

Tahun ini Mang Pipin tak pulang, ia memilih berlebaran di kapal. Yang pulang adalah Mang Yayat, yang mungkin rindu pada anak dan istri juga ibunya. Mereka telah tiba lebih dulu dari kami. Jika mereka siang, kami malam baru sampai. Maklum, Jogja-Ciamis lebih jauh dari Brebes-Ciamis. Ditambah dengan jalan yang dikeruk. Entahlah saya bingung dengan pemerintah Indonesia. Sudah tahu mau lebaran, pasti banyak yang berkendara, eh ini kurang kerjaan jalan sudah bagus malah dikeruk. Sedangkan di Cilacap jalan yang berlubang-lubang itu tak kunjung diperbaiki. Sampai oleh warga lubang-lubang itu ditutup dengan batu, gerobak, gedebog pisang. Tujuannya agar pengemudi tidak melewati lubang itu dan sebagai bentuk protes warga juga tentunya. Jalan ini terlihat semrawut, bapak pun harus berhati-hati menyetir di sini, mobil kami merayap zig-zag menghindari batu-batu itu.
Jum’at lalu, pukul 10.00 tujuan utama kami laksanakan, ziarah ke makam Aki Ojak. Makam yang telah berumur sembilan tahun itu, tak lebih dari makam sederhana berupa gundukan tanah yang tepinya diberi susunan batu, dua batu tertancap di ujung utara dan selatan, di atas gundukan tanah itu ditanami bunga warnanya merah yang saya tak tahu namanya. Letaknya berada di antara kebun-kebun singkong, jika dari jauh ini tak terlihat seperti makam karena tertutup oleh pohon-pohon singkong dan bambu. Tak ada jalan utama untuk menuju makam ini, kami pun harus mblasak-mblasak kebun singkong agar bisa berziarah. Posisinya berada pada tanah lereng, jadi miring gitu deh. Ya, itulah pamakaman keluarga kami, yang di situ juga buyut-buyut saya dimakamkan.

Saya, bapak, ibu, adik-adik, Mang Yayat beserta istri dan anaknya tak lupa Rizki keponakan saya yang mengekor kami ikut berdoa, doa yang tulus, doa yang benar-benar dari hati saya untuk kakek tercinta. Di bawah pohon bambu, di tengah-tengah kebun singkong, dan dihadapan makam ini saya masih merasakan kasih sayang dari Aki Ojak.

Pikiran saya langsung terbang beberapa tahun silam, ketika Aki Ojak masih ada, ketika saya pulang kemudian disambutnya dengan gendongan dan kecupan hangat. Ketika yang dimasak adalah ayam yang dulu saya tak doyan, Aki Ojak langsung menangkapkan ikan mas di kolam belakang rumah. Diajaknya bercanda, dipangkunya, sungguh indah.

Ketika saya lahir bukan bapak yang adzan di telinga kanan saya dan iqomah di telinga kiri saya, bukan bapak tapi Aki Ojak. Sebab saat itu, bapak masih dalam perjalanan dari Malang, dari berdagang mencari nafkah. Sedikit cerita, karena rezeki yang belum cukup saat itu saya belum di aqiqah sampai saat ini. “Besok saja sekalian kalau kamu nikah,” kata ibu. Hahaha, butuh waktu yang tak pendek untuk menunggu saya menikah.

Setelah selesai shalat jum’at dan yang perempuan sudah shalat dzuhur kami bersilaturahmi ke rumah bibinya bapak. Bi Titik namanya, kalau saya manggilnya Nenek Titik. Rumahnya tidak jauh dari rumah kami, hanya beda desa. Jalan yang gronjal-gronjal membuat perjalan kami tersendat, tak berubah dari sembilan tahun lalu.

Layaknya jalan-jalan di desa, kanan sawah kiri sawah, kadang kolam, kadang rawa. Di sana juga ada pondok pesantren putri salafi bercadar, tapi saya tak tahu namanya.
Mungkin lima belas menit kami tiba di rumah Nenek Titik. Semua bersalaman, tak terkecuali saya. Saya yang paling lama bersalaman dengan beliau, sampai dipeluknya. “Iye teh Eneng? Ya Allah Neng sembilan tahun nggak ke sini…” rintihnya sambil bercucur air mata.

Saya sendiri bingung, ini kenapa? Ketemu ya seneng dong, bukan malah nangis. Semua duduk di luar, di teras rumah Nenek Titik. Sedangkan bapak berada di dalam bersama suami Nenek Titik, Nenek Titik, dan saya. Kami ngobrol ngalor-ngidul, ditemani kue kacang yang dulu ketika kecil saya sangat menyukainya.

“Nih Neng, kue kacang kesukaan Eneng,” Ya Allah masih inget aja, itu kan udah sembilan tahun yang lalu.

“Yang ini masukin mobil ya! Buat Eneng nanti di Jogja, sok masukin!” saya menurut saja. Subhanallah banget di bumi ini saya masih menemukan orang yang menyayangi saya sampai seperti ini, masih ingat makanan kesuskaan saya ketika kecil.

Semua cerita masih tentang keluarga kami, masalah-masalah keluarga kami, tentang Aki Ojak. Sampai tiba pada suatu pembicaraan yang saya tak mengerti karena orang-orang ini berbicara dengan Bahasa Sunda. Meskipun saya lahir di Sunda tapi tiga bulan kemudian saya langsung diboyong ke Jogja, jadi belum sempat belajar Bahasa Sunda. Tapi ada kata-kata ‘Eneng’, ‘Aki Ojak’, ‘wasiat’. Berarti ngomongin saya. Hayo ada apa?

Kalau saya menerka mungkin begini, dulu Aki Ojak berwasiat kepada Nenek Titik suruh jaga saya baik-baik. Setelah di dalam mobil, saya bertanya pada bapak, “Pak Nenek Titik tadi ngomong apa?”

“Dulu, waktu Aki’ Ojak masih bisa ngomong Aki Ojak nitipin kamu ke Nenek Titik, mau dititipin ke Nenek Titik?” saya hanya tersenyum. Ya Rabb, betapa sayang kakek kepada saya sangat besar, sampai sebelum meninggal pun sempat memikirkan cucunya yang jauh ini. Mungkin titip di sini bukan berarti harus tinggal bersamanya, tapi titip sayangi saya.

Ya, sayangnya Aki Ojak masih bisa saya rasakan dari Nenek Titik dalam hangat peluknya. Sebelum saya dan keluarga berpamitan dari rumah Nenek Titik beliau berpesan. Hanya satu pesannya, “Sing pinter, Neng!” subhanallah, dari sini saya menemukan semangat baru. Meski agak jauh saya belajar, meski susah saya belajar. Nanti, ketika sukses itu datang bukan hanya saya yang bahagia tetapi keluarga besar di kampung sana juga ikut bahagia. Dan sebaliknya ketika hancur bukan hanya saya yang kecewa tapi mereka juga ikut kecewa. Ya Rabb kuatkan saya.

Di sana semua mendoakan, “Sing pinter sakolahna, Neng! Biar nanti bisa jadi ustadzah, jadi dosen, mencerahkan masyarakat.” Itulah doa dari Wa’ Onah, kerabat dekat kami juga. Ya Allah, di sana pokoknya kalau ketemu orang yang keluar dari mulut mereka adalah doa. “Ya Allah, Eneng. Udah perawan sekarang.” Itu ucapan pertama yang dilanjutkan dengan obrolan kemudian akhirnya “Sing pinter sakolahna, Neng!”

Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas semuanya. Saya pun mohon doa pada pembaca sekalian. Semoga kita sama-sama sukses nantinya, nanjah ma’an!
S
ebetulnya saya masih ingin bercerita tentang mobil bapak yang ritingnya ringsek gara-gara nabrak LGX waktu macet di Gombong jl. Yos Sudarso nomer 600 berapa gitu. Juga kami yang pulang melalui jalur pantai, asik sekali pokoknya. Tapi saya belum mandi dan waktu juga sudah semakin sore. Jadi sampai sini dulu ceritanya yaa..

Semoga bermafaat. Saya juga mengucapkan terima kasih bagi siapa pun yang sudah mau membaca catatan ini. Tak bisa membagi oleh-oleh berupa makanan, maka inilah oleh-oleh untuk kawan semua.

Wassalamualaikum wr. wb.






  



Kamis, 01 Agustus 2013

Petualangan Imajinasi


JudulBuku      : Kado dari Kairo
Penulis             : Jauhar Ridloni Marzuq
Penerbit           : Media Sathira
Cetakan          : Pertama, Mei 2013
Ukuran           : 14 x 21 cm
Isi                   : xi + 298 halaman
ISBN               : 978-602-18694-2-0

 Kado dari Kairo merupakan buku karyaJauhar Ridloni Marzuq. Buku ini berisi pengalaman-pengalaman penulis semasakuliah di bumi para Nabi juga perjuangannya dalam mendapatkan kuliah itu.

 Jauhar yang memiliki kecerdasan otakdan ilmu serta wawasan yang luas membuatnya mampu mendapatkan beasiswa untukbelajar di universitas Islam tertua di dunia. Namun tak semudah membalikkan telapak tangan, untuk mendapatkan itusemua Jauhar harus di uji berkali kali dengan hal yang tak diduga-duga.

 Jika kado identik dengan hal yangmanis lagi romantis, maka dalam buku ini Anda tak akan pernah menemukan halitu. Tak seperti Andrea Hirata yang menerjemahkan sainsnya dalam sastraberbalut majas yang hiperbola, juga tak seperti Tere Liye yang menebar cinta disetiap kata-katanya. Karena ‘kado’ di sini bukanlah suatu pokok yang menjadi alurcerita di dalamnya, tetapi sebuah ilmu yang penulis berikan melalui wawasannya.Buku ini sebenarnya hanya untuk Ayah dan Ibu penulis yang telah empat tahunlebih berpisah dengan anaknya, menjadi kado paling romantis ketika penuliskembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

 Tapi penulis pikir mungkin buku iniakan jauh lebih bermanfaat apabila dikonsumsi oleh khalayak ramai.
UntukAnda yang mungkin berencana mengejar S1 di Al-Azhar University, buku ini akanmemberikan sedikit banyak gambaran tentang Al Azhar. Mulai dari asrama,ujiannya yang tak muat hingga memanfaatkan lapangan parkir, hingga potretdosen-dosen Al-Azhar yang begitu rendah hati dan sederhana. Tak ketinggalanpenulis juga memaparkan sejarah berdirinya Al-Azhar juga sejarah tentang Negaradi mana Al-Azhar itu berdiri yang saya sendiri selalu lupa siapa dan dari dinastyapa.

Mesirmemang Ibu Peradaban Dunia, yang di dalamnya menyimpan nilai history yangbegitu tinggi. Penulis memaparkannya dengan sangat baik. Tanpa ada basa-basi,tak perlu majas-majas yang hiperbolik, yang ada hanya to the point namun mengena di hati.

BagiAnda yang sedang belajar Bahasa Arab, untuk menambah wawasan buku ini sedikitmenjelaskan kaidah-kaidah Bahasa Arab Ammiyah. Yaitu Bahasa Arab pasaran, ataukalau di pondok saya di sebut juga dengan bahasa rusak. Kalau di Indonesiamungkin disebut dengan bahasa gaul. Misalnya anta menjadi entaji’tu menjadi gi’tu. Bahasa Arab seperti ini tidak terlalu diajarkan dikebanyakan pondok di Indonesia, yang diajarkan yaitu bahasa Fushah atau bahasa resmi.

Dalambuku ini penulis menggunakan sudut pandang ‘saya’ dan ‘Anda’ yang terkesanlebih resmi dibanding ‘aku kamu’. Namun penggunaan ‘saya’ membuat buku initidak terkesan egois seperti penggunaan ‘aku’. Dan penulis lebih fokus padaobjek-objek menarik yang ia ceritakan berdasarkan pengalaman penulis. Tidakseperti kebanyakan novel yang memang menceritakan tentang seorang tokoh yangfokus pada perjalanan hidup tokoh hingga asmara sang tokoh. Buku ini memangbercerita tentang pengalaman penulis di Mesir tetapi bukan penulis yang menjaditokoh utama melainkan Mesir itu sendiri.

BudayaMesir menyambut Ramadhan diceritakan dengan sangat cantik. Jika di Indonesialampion digunakan untuk menyambut Hari Raya, tetapi di Mesir lampion digunakanuntuk menyambut bulan suci Ramadhan. Tentu saja di Mesir namanya bukan lampiontapi Fanous. Penulis pun takketinggalan menyampaikan sejarah dari Fanousitu sendiri. Pokoknya buku ini sarat dengan sejarah. Mungkin penulisnya memangsuka dengan sejarah. Di setiap lini penulis selalu bermain dengan sejarah.Sampai membuat saya bertanya-tanya, dulu penulis nilai pelajaran TarikhIslam-nya dapat berapa? Mumtaz kali yaa..

Jikadi Indonesia Hari Raya disambut dengan sangat meriah. Seperti takbiran bersamadi masjid juga takbir keliling dengan obor yang dihias begitu menarik sertaminiatur berbau agama Islam yang menyala warna warni dengan lampu neonnya, takketinggalan petasan mahal yang diledakkan sana sini, ketupat, opor, dan jugaanimo mudik. Semua itu tak akan Anda temui di Mesir. Di Mesir takbiran tidakdikeraskan, bahkan penulis sampai ketinggalan shalat Ied ketika pertama kalishalat Ied di Mesir. Disebabkan penulis tak mendengar ada takbir berkumandangyang ia jadikan patokan akan dimulainya shalat Ied.

Yangpernah saya tahu ada beberapa Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir) yangmerayakan Idul Fitri dengan caranya yang unik. Karena mungkin saking kangennya dengan takbiran diIndonesia mereka takbiran sendiri di dalam flat¸dengan alat seadanya seperti galon aqua, botol sirup kosong , juga sendok yangdipukulkan dengan gelas, salah satu dari mereka ada yang menjadi vocalis danmerangkap sebagai sutradara. Mereka bertakbir bersama-sama penuh penghayatanjuga penuh rasa rindu Ibu Pertiwi. Tak lupa mereka mengabadikan  dalam sebuah video yang diedit denganucapan-ucapan yang bagi saya cukup membuat orang tersenyum ketika membacanya.

MenjadiMasisir memang sebuah pengalaman yang seru dan menyenangkan. Saya pun ingin,jika ada rezeki nanti.

Selamakita masih hidup, ke mana pun kaki melangkah kita masih tetap berada di bumiAllah. Ketika berada di luar negeri, rasa rindu terhadap bumi pertiwi memangtak mungkin terbendung. Dan di situlah kita mulai sadar betapa indahnya negerisendiri walau dirundung korupsi dan kolusi. Mesir yang hanya punya Nil,tentunya iri dengan hijaunya hutan kita, tambang kita, alam kita, nusantara.

BagiAnda yang belum diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi Bumi Para Nabiini, bacalah Kado dari Kairo, Jauhar Ridloni Marzuq akan membawa Andaberpetualang bersama menemui titisan Cleopatra. Ketika saya membaca ‘PesonaKota Alexandria’ saya tertidur kemudian bermimpi berada di kota pantai nanindah tersebut. Mesir yang punya banyak julukan itu, saya pribadi menjulukinyasebagai Negeri Impian.

Kadodari Kairo, buku yang menjadi kado bagi Ayah dan Ibu penulis ini, kalau bolehsaya Ge Er saya pun menganggapnya sebagai kado untuk saya di liburan akhirtahun ajaran ini. Belum bisa mengunjungi Mesir secara langsung seperti yangdilakukan beberapa kakak kelas melalui program study tour, tapi tak apa. Karena buku ini telah membawa saya keNegeri Impian melalui imajinasi dan mimpi.

Terimakasih atas kadonya…

Senin, 22 Juli 2013

Ramadhan Pendewasaan: Antara Birrul Walidain dan Amanah


Assalamualaikum…
Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan untuk menyentuh keyboard  ini. Setelah lima bulan lamanya saya tak bergelut dalam bidang tulis menulis dan blogging karena alasan studi. Oke, dalam artikel Ramadhan tahun ini, saya ingin sedikit bercerita yang semoga bermanfaat untuk kawan-kawan sekalian.
          Kisah ini berawal ketika saya mengantar Husna, adik saya yang baru masuk TK. Saya mengantarnya dengan senang hati, sekalian main pikir saya, dari pada di rumah jenuh.
          Saya dan dan Husna berangkat dengan berjalan kaki, karena lokasi TK memang tidak jauh dari rumah kami, hanya sekitar 250 meter. Jalan yang kami lewati dikelilingi oleh sawah yang hijau, kecuali sawah nenek kami yang baru saja dipanen. Sekolah adik saya ini bukan hanya TK saja lho, tapi ada TPA (Tempat Penitipan Anak), KB (Kelompok Bermain) alias Play Group, juga SD. Yang semuanya itu tergabung dalam satu yayasan yang dinamai “Anak Sholeh”. Bagaimana pun nama adalah doa.
Begitu tiba di sekolahknya, kami langsung disambut oleh ustadzah-ustadzah dengan ramah. “Assalamualaikum Mbak Husna,” sapa Ust Rina wali kelas Husna ketika bersalaman dan mencium tangan gurunya itu. “Liburan ya, Mbak?” Ust Ika menyapa saya. Ust Ika ini bagaimana pun juga adalah ustadzah saya sejak lama, sejak saya SD kelas 6. Sampai sekarang Alhamdulillah kami masih berkomunikasi dengan baik.
Saat saya menaruh tas Husna di lokernya, saya bertemu dengan Ust Retno, ustadzah di TPA Al Hikmah masjid kami juga. Saya bersalaman dengannya, kemudian beliau memberi amanah pada saya, “Mbak, nanti saya ada urusan ke Magelang. Terus di masjid ada tamu, tolong Mbak Alfin berangkat lebih awal ya. Jadi saya ngundang kerabat buat mendongeng nanti di masjid sebelum ta’jilan, tolong ya, Mbak,” katanya.
Saya hanya bisa menjawab, “Insya Allah, Bu.”
Waktu menunjukkan pukul 08.00, “Oke anak-anak pagi ini kita akan belajar upacara,” teriak Ust Ika meskipun sudah menggunakan pengeras suara. Ust Ika ini badannya kecil, mungil, dengan jilbabnya lebar dan seragam coklat Pegawai Negeri, cute pokoknya. Ketika komando sudah diteriakkan, ada anak yang sudah rapi dan berbaris, ada yang lari ke sana-sini, ada yang masih tertawa bercanda dengan temannya, ada yang butuh tuntunan ustadzahnya sehingga ustadzah yang punya tangan dua itu pun menggandeng dua anak juga-kanan dan kiri. Tak ketinggalan, ada yang mengompol, ada yang menangis akan ditinggal ibunya sampai ustadzah pun menggendongnya.
Ada juga anak SD, kelas satu mungkin. Sambil menggendong tas merah Hello Kitty-nya berlari dari arah kelasnya, “Abi, abiiiii, abi mau kemanaaa???” meneriaki abun-nya yang sudah berada di atas sepeda motor. Merasa tak tega ayahnya pun tak kunjung pergi. Ayah dan anak ini dibatasi oleh sebuah pagar. Tak lama kemudian, menyusullah ustadzah anak ini, buru-buru dipeluknya anak ini, “Sudah, Pak. Terus, Pak! Terus saja, Pak!”
“Mau sama abiiii, pokoknya sama abiii. Aku nggak mau sekolah di sini!!” teriaknya lucu sekali. “Abi sudah jauh, Mbak.. di sini aja ya sama ust, nanti kita belajar jadi anak sholeh,” ustadzahnya menenangkan. “ Nggak mauuu!!! Aku nggak mau jadi anak sholehhh!! Aku mau abiii,” matanya makin berlinang. “Iya, iya, ambil motor dulu ya…” ustadzahnya berbohong, diajaknya anak itu masuk dan didudukkan di samping masjid lalu ustadzah itu pura-pura ambil motor lama sekali. Pura-pura saja. Pembiasaan yang baik.
Pemandangan seperti ini sangat langka saya dapatkan karena sibuk dengan aktivitas pondok yang juga jauh dari rumah. Jadi begitu lihat pemandangan ini berasa wow… lucu banget sih. Apa lagi di pondok nggak ada kumpulan anak kecil yang banyak banget seperti ini.
Setelah masuk kelas saya berpamitan dengan Husna untuk pulang, dan berjanji akan kembali lagi nanti pukul sepuluh.
Setelah Husna pulang, saya kembali bergelut dengan adik saya yang satunya, yang sudah SD tapi tidak masuk karena sakit, Husni. Pagi tadi saya berjanji akan menyampulkan semua buku tulisnya dengan sampul kertas dan plastik. Begitu Husna melihat apa yang sedang kami lakukan, dia pun minta buku tulisnya untuk disampul.
Di punggung buku saya menuliskan mata pelajaran yang digunakan dalam buku itu. Husna juga minta hal yang sama, dasar tukang iri :p anak TK plajarannya apa sih? Memang ada Matematika? IPA? IPS? Bahasa?
Walhasil pelajaran yang kami peroleh untuk Husna adalah Suka-suka, Coret-coret, Menulis, dan Menggambar.
Tak lama kemudian adzan dzuhur berkumandang, saya langsung ambil wudhu dan mendirikan sholat, tapi kemudian juga tumbang di atas kasur. Sampai jam 15.30 saya baru bangun. Haduh, saya juga tak mengerti mengapa seperti ini? Kalau di pondok saja, dengan bunyi pelk ban yang dipukul dengan besi dari jarak jauh saya langsung  bangun. Tapi di rumah, mamah ngebangunin berkali-kali saya tetep nggak bangun. Mungkin ini yang orang bilang dengan istilah “balas dendam”-nya anak pondok.
“kamu dibangunin nggak bangun-bangun. Bantu bapak itu lho!!! Sudah tahu kebutuhannya banyak malah nggak bantu-bantu!!!” skak mat deh kalo gini caranya. Akhirnya saya bantu-bantu bapak. Sampai jam 16.30 baru selesai. Oh my God, I come late. Di suruh berangkat ke masjid sama Ust Retno pukul 16.15, ini 16.30 baru berangkat mandi. Pukul 16.45 baru berangkat dari rumah, jalan kaki lagi, padahal masjid lokasinya agak jauh. Sampai di masjid jam 17.00. God, help me! Ohh!
Antara birul walidain dan amanah, pilih mana hayo?
          “Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua, murka Allah bergantung pada murka orang tua” oke, saya lupa riwayatnya. Dari pada sesat saya memilih mengaku lupa. Yang ingat boleh mengingatkan
          “Dan sembahlah Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu. Dan apa bila salah satu atau kedua-duanya berusia lanjut dan berada dalam pemeliharaanmu, maka janganlah berkata ‘ah’ dan janganlah kamu berkata kasar, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang baik” al-Isra’ ayat 23.
          Dua dalil di atas mejadi pedoman saya ketika akan berbuat dan bersikap dengan orang tua. Jadi saya memilih untuk membantu ayah saya dulu baru berangkat ke masjid. Bener nggak sih ini???
          Tapi amanahnya? Ya, begitulah. Ini memang semata-mata adalah kesalahan saya yang sangat khrm, ngebo kalau tidur. Jadi pelajaran yang dapat saya petik hari ini adalah; harus menerapkan mahfudzat yang bunyinya, “wa man tholabal ‘ula sahiral layaali” Artinya: “Dan barang siapa mencari kesuksesan baginya tidak tidur semalaman.”
          Itu artinya, tapi dibalik arti pasti ada makna yang tersiarat. Tidak tidur semalaman di sini maksudnya bukan seperti yang tertera tapi sedikit tidur. Jadi barang siapa mau mendapat kesuksesan kita diperintahkan untuk bekerja keras dan hanya sedikit tidur. Jadi meskipun puasa jangan banyak-banyak tidur yaa J terutama cewe, kata mama nggak baik.
          Oke, sekian dulu ya kisah dari saya. Hari ini memang hari penguatan buat saya. Sudah merasa bersalah nggak bisa jaga amanah, Ust Retno afwan yaa.. tambah agak nyesek karena khrm, sedikit disindir. Okelah, nggak papa, karena puasa itu butuh sabar. Dan sabar itu nggak ada batasnya, ya kan?
          Sebagai manusia yang diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi ini, tentunya tak gampang memegang amanah dari-Nya. Banyak rintangan yang harus kita lalui.
Dan kata Tere-Liye, “Hidup ini tidak seperti novel, yang kalau halaman sekarang terasa sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah, maka dengan bersabar membaca 10, 20 halaman berikutnya semua selesai, berubah jadi membahagiakan.
Di kehidupan nyata , kita bahkan perlu 10, 20 hari, bulan, bahkan tahun harus terus bersabar agar semua selesai, berubah jadi membahagiakan. Karena itulah dewasa oleh kehidupan, memiliki pemahaman baik karena proses kehidupan, akan menjadikan seseorang lebih kuat dan lebih kuat lagi.”
Sekian, undur maa qoola walaa tandur man qoola, lihatlah apa yang dikata jangan melihat siapa yang berkata..
Wassalamualaikum wr. wb.


         



Senin, 01 Juli 2013

Salam-Salaman



Assalamualaikum.
Tak terasa ya, 5 bulan berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya posting "My Activities", ternyata sudah lima bulan yang lalu. Cepat sekali.

Ya, pulang ke rumah dengan embel-embel anak pondok itu nggak mudah, kawan. Apa lagi pakai bawa-bawa nama Gontor. Haduh, berat banget mbak.

Papah Agus Mulyana, S.Ag. pernah berpesan, "Kalau bertemu dengan ibu guru di SMP salami dan cium tangannya. Tapi kalau dengan bapak guru cukup dengan isyarat saja, kan kalian sudah dewasa."

Niatnya, saya sih mau mengabaikan pesan yang ke-dua itu. Tapi ternyata begitu saya sampai di SMP, tanpa saya yang mengisyaratkan bapak-bapak guru sudah mengisyaratkan duluan. Duh, jadi nggak enak. Apa lagi Pak Sulis, guru favorit saya waktu di SMP dulu, hahaha.. tapi ya sudahlah nggak papa, baiknya memang begitu. Tadi senyum beliau lebar banget. Lama nggak lihat senyumnya yang begitu :D

Tambah lagi yang bikin saya dilema hari ini, kakak sepupu saya yang paling ganteng, Memo Yuti Irawan dateng ke Jogja, dari Bangka. Apakah saya harus salaman? Terlepas dari jawaban itu mau nggak mau memang saya harus salaman, karena ya saudara dari jauh lama nggak ketemu dan langka banget kesempatan buat ketemu. SImbah bolak-balik tanya, "Dah salaman belum?" ya sudahlah, masalah ini sepertinya memang menyesuaikan situasi dan kondisi ^^

Happy Holidays