Assalamu'alaikum teman-teman.. Ada work shop kepenulisan nih.. Hanya di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Prambanan.. Teman teman jangan lupa datang yaa.. Jangan sampai terlewatkan.. Mumpung masih dekat.. Masih di sekitaran Jogja.. Segera merapat.. Fina tunggu kehadiran teman teman di Baitussalam yaa.. 😳😳😳
Kamis, 27 April 2017
Rabu, 14 Agustus 2013
Coret Moret
Assalamualaikum wr. wb.
Kawan, tahukah kau? Istiqomah itu susah... sukses itu juga susah. Dan kini saya tengah berada dalam pahitnya perjuangan bertahan dalam istiqomah itu menuju sukses...
Kali ini saya tak ingin menulis banyak. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya punya banyak hutang. Ya, hutang kesuksesan!
Tentunya kepada kedua orang tua saya, Bapak dan Ibu yang telah memberi saya berjuta kasih sayangnya juga selalu ada ketika saya butuh apa pun.
Kepada kedua paman saya, Mang Yayat dan Mang Pipin yang kadang-kadang saya merepotkan mereka.
Kepada keluarga besar saya, Nenek Titik, Wa' Onah, Mak Aen, dan lain-lain yang telah ikhlas mendukung dan mendoakan saya agar saya bisa menjadi dosen nantinya, agar bisa menjadi ustadzah yang mampu mencerahkan masyarakat.
Kepada orang tua asuh saya, Bapak Agus Sugeng Setiawan. Yang kami belum pernah bertatap muka, bertegur sapa secara langsung. Beliau selalu ada ketika kami butuh.. Maaf, saya belum mampu membalas kebaikan bapak. Dan saya tak mengerti dengan apa saya harus membalas jika tidak dengan kesuksesan nanti...
Kepada Ustadz H. Khoirul Fata, Lc., yang entah mengapa saya merasa punya hutang sukses pada beliau. Ustadz yang saya belum pernah bertemu dengannya..
Ya Rabb, sungguh saya ingin mempertahankan istiqomah ini! Izinkan saya khusnul khotimah nantinya ya Rabbi... Amiin
Maka, alangkah bodohnya jika saya bersekolah tetapi ilmu yang diberikan tak mampu diserap apa lagi diamalkan nantinya.. Orang-orang di atas adalah segelintir motivasi saya. Terima kasih Engkau telah memberikan mereka sebagai anugrah dalam diri saya, menjadi bagian dalam hidup saya...
Wassalamualaikum wr. wb.
Kawan, tahukah kau? Istiqomah itu susah... sukses itu juga susah. Dan kini saya tengah berada dalam pahitnya perjuangan bertahan dalam istiqomah itu menuju sukses...
Kali ini saya tak ingin menulis banyak. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya punya banyak hutang. Ya, hutang kesuksesan!
Tentunya kepada kedua orang tua saya, Bapak dan Ibu yang telah memberi saya berjuta kasih sayangnya juga selalu ada ketika saya butuh apa pun.
Kepada kedua paman saya, Mang Yayat dan Mang Pipin yang kadang-kadang saya merepotkan mereka.
Kepada keluarga besar saya, Nenek Titik, Wa' Onah, Mak Aen, dan lain-lain yang telah ikhlas mendukung dan mendoakan saya agar saya bisa menjadi dosen nantinya, agar bisa menjadi ustadzah yang mampu mencerahkan masyarakat.
Kepada orang tua asuh saya, Bapak Agus Sugeng Setiawan. Yang kami belum pernah bertatap muka, bertegur sapa secara langsung. Beliau selalu ada ketika kami butuh.. Maaf, saya belum mampu membalas kebaikan bapak. Dan saya tak mengerti dengan apa saya harus membalas jika tidak dengan kesuksesan nanti...
Kepada Ustadz H. Khoirul Fata, Lc., yang entah mengapa saya merasa punya hutang sukses pada beliau. Ustadz yang saya belum pernah bertemu dengannya..
Ya Rabb, sungguh saya ingin mempertahankan istiqomah ini! Izinkan saya khusnul khotimah nantinya ya Rabbi... Amiin
Maka, alangkah bodohnya jika saya bersekolah tetapi ilmu yang diberikan tak mampu diserap apa lagi diamalkan nantinya.. Orang-orang di atas adalah segelintir motivasi saya. Terima kasih Engkau telah memberikan mereka sebagai anugrah dalam diri saya, menjadi bagian dalam hidup saya...
Wassalamualaikum wr. wb.
Minggu, 11 Agustus 2013
On The Way Ied 2013
Assalamualaikum
wr. wb.
Bagaimana
kabar kawan-kawan semua? Baik-baik saja bukan? Alhamdulillah…
Mumpung
masih bisa menyentuh keyboard ini
saya ingin berbagi sedikit cerita.
Sembilan Tahun Tak Pulang
Alhamdulillah,
tahun ini saya, bapak, ibu, dan kedua adik saya akhirnya bisa juga mudik ke
Ciamis. Tepatnya di sebuah desa terpencil di pedalaman Padaherang, Ciamis.
Yaitu, desa Cibogo. Setelah sembilan tahun saya dan ibu saya tak berkunjung ke
sana.
Terakhir
kami ke sana adalah ketika kakek kami, Abdul Rojak berpulang kepada Rabb Yang
Maha Hidup karena stroke yang dideritanya beberapa tahun belakangan saat itu.
Ketika itu saya masih kelas dua SD, adik saya Husni masih berumur tiga bulan.
Malam itu bapak saya di telpon oleh nenek bahwa Aki Ojak sedang kritis-Aki’
adalah sebutan untuk kakek. Dan malam itu juga, saya, bapak, ibu, Husni, dan
paman saya yang masih SMA di Jogja bergegas mengemasi barang-barang.
Di
seberang jalan depan rumah, kami menanti bus yang mungkin bisa mengantar kami
untuk pergi ke kampung halaman. Akhirnya datang juga bus itu, kami berangkat
dari Jogja pukul 00.00
Kebetulan
bus kami ber-AC, malam yang dingin dan penuh khawatir itu menjadi semakin
dingin dan kalut. Pukul 03.00 bapak dapat telpon dari Wak Ida, Wak adalah
sebuatan kakak dari ayah atau ibu. Wak Ida memberi kabar bahwa kakek sudah
berpulang. Dan bapak meminta supaya jangan memberi tahu Mang Pipin, pamanku
terkecil.
Ya,
saya yang saat itu hanya tahu hidup itu tidak mati, dan mati itu tidak hidup
hanya diam menikmati mabuk kendaraan dalam bus.
Pukul
09.00 kami tiba di rumah, kami disambut haru oleh saudara dan kerabat di
halaman rumah. Semua menangis, berpelukan, penuh dengan bisikan kata-kata yang
menegarkan. saya bingung. Saya hanya digandeng oleh ibu dan dibawa masuk ke
rumah untuk melihat jasad kakek yang terakhir kalinya.
“Cium
kakek, Nak!” perintah ibu. Dengan takut-takut, kukecup beliau untuk yang
terakhir kalinya.
Pukul
10.00 kakek segera dimakamkan di pemakaman keluarga yang letaknya tak jauh dari
rumah.
I
tulah
terakhir kalinya saya pulang sebelum mudik tahun ini. Sebagai anak yang
dilahirkan di kampung yang kecil itu, mungkin saya terlalu tega sampai tak
pulang selama sembilan tahun!
Tapi saya
dan ibu tak pulang bukan tanpa alasan. Ada masalah keluarga yang membuat kami
enggan untuk pulang. Nenek kami menikah lagi! Ya Rabb, bapak marah besar saat
itu. Ia pulang hanya untuk marah-marah pada nenek. Toples pun ikut dibanting,
katanya.
Bukan
masalah orangnya tapi yang jadi masalah adalah menikahnya. Bapak dan adik dari
kakek- jadi bibinya bapak, masih berpikir bahwa tega sekali nenek menikah lagi.
Rumah yang dibangun dengan kerja keras Aki Ojak, penuh perjuangan, rumah yang
masih baru itu kini ditempati nenek dengan laki-laki lain. Ya Rabb, dan kemarin
kami datang, rumah itu pun belum ada perubahan, tak makin bagus tapi makin
lusuh. Lebih rapi ketika Aki Ojak masih ada.
Ziarah dan Wasiat Tersembunyi
Tujuan
saya pribadi ikut dalam mudik ini adalah ingin berziarah ke makam kakek yang
sembilan tahun tak pernah ikut merawat, apa lagi membersihkan.
Hari
Kamis, pukul 21.00 kami tiba di rumah nenek. Dengan oleh-oleh buah salak pondoh
yang di sana tidak ada, di sana hanya ada salak Tasik yang rasanya sepet tak
seperti salak pondoh yang manis.
Tahun
ini Mang Pipin tak pulang, ia memilih berlebaran di kapal. Yang pulang adalah
Mang Yayat, yang mungkin rindu pada anak dan istri juga ibunya. Mereka telah
tiba lebih dulu dari kami. Jika mereka siang, kami malam baru sampai. Maklum,
Jogja-Ciamis lebih jauh dari Brebes-Ciamis. Ditambah dengan jalan yang dikeruk.
Entahlah saya bingung dengan pemerintah Indonesia. Sudah tahu mau lebaran,
pasti banyak yang berkendara, eh ini kurang kerjaan jalan sudah bagus malah
dikeruk. Sedangkan di Cilacap jalan yang berlubang-lubang itu tak kunjung
diperbaiki. Sampai oleh warga lubang-lubang itu ditutup dengan batu, gerobak,
gedebog pisang. Tujuannya agar pengemudi tidak melewati lubang itu dan sebagai
bentuk protes warga juga tentunya. Jalan ini terlihat semrawut, bapak pun harus
berhati-hati menyetir di sini, mobil kami merayap zig-zag menghindari batu-batu
itu.
Jum’at
lalu, pukul 10.00 tujuan utama kami laksanakan, ziarah ke makam Aki Ojak. Makam
yang telah berumur sembilan tahun itu, tak lebih dari makam sederhana berupa
gundukan tanah yang tepinya diberi susunan batu, dua batu tertancap di ujung
utara dan selatan, di atas gundukan tanah itu ditanami bunga warnanya merah
yang saya tak tahu namanya. Letaknya berada di antara kebun-kebun singkong,
jika dari jauh ini tak terlihat seperti makam karena tertutup oleh pohon-pohon
singkong dan bambu. Tak ada jalan utama untuk menuju makam ini, kami pun harus mblasak-mblasak kebun singkong agar bisa
berziarah. Posisinya berada pada tanah lereng, jadi miring gitu deh. Ya, itulah
pamakaman keluarga kami, yang di situ juga buyut-buyut saya dimakamkan.
Saya,
bapak, ibu, adik-adik, Mang Yayat beserta istri dan anaknya tak lupa Rizki
keponakan saya yang mengekor kami ikut berdoa, doa yang tulus, doa yang
benar-benar dari hati saya untuk kakek tercinta. Di bawah pohon bambu, di
tengah-tengah kebun singkong, dan dihadapan makam ini saya masih merasakan
kasih sayang dari Aki Ojak.
Pikiran
saya langsung terbang beberapa tahun silam, ketika Aki Ojak masih ada, ketika
saya pulang kemudian disambutnya dengan gendongan dan kecupan hangat. Ketika
yang dimasak adalah ayam yang dulu saya tak doyan, Aki Ojak langsung
menangkapkan ikan mas di kolam belakang rumah. Diajaknya bercanda, dipangkunya,
sungguh indah.
Ketika
saya lahir bukan bapak yang adzan di telinga kanan saya dan iqomah di telinga
kiri saya, bukan bapak tapi Aki Ojak. Sebab saat itu, bapak masih dalam
perjalanan dari Malang, dari berdagang mencari nafkah. Sedikit cerita, karena
rezeki yang belum cukup saat itu saya belum di aqiqah sampai saat ini. “Besok
saja sekalian kalau kamu nikah,” kata ibu. Hahaha, butuh waktu yang tak pendek
untuk menunggu saya menikah.
Setelah
selesai shalat jum’at dan yang perempuan sudah shalat dzuhur kami
bersilaturahmi ke rumah bibinya bapak. Bi Titik namanya, kalau saya manggilnya
Nenek Titik. Rumahnya tidak jauh dari rumah kami, hanya beda desa. Jalan yang gronjal-gronjal membuat perjalan kami
tersendat, tak berubah dari sembilan tahun lalu.
Layaknya
jalan-jalan di desa, kanan sawah kiri sawah, kadang kolam, kadang rawa. Di sana
juga ada pondok pesantren putri salafi bercadar, tapi saya tak tahu namanya.
Mungkin
lima belas menit kami tiba di rumah Nenek Titik. Semua bersalaman, tak
terkecuali saya. Saya yang paling lama bersalaman dengan beliau, sampai
dipeluknya. “Iye teh Eneng? Ya Allah Neng sembilan tahun nggak ke sini…”
rintihnya sambil bercucur air mata.
Saya
sendiri bingung, ini kenapa? Ketemu ya seneng dong, bukan malah nangis. Semua
duduk di luar, di teras rumah Nenek Titik. Sedangkan bapak berada di dalam
bersama suami Nenek Titik, Nenek Titik, dan saya. Kami ngobrol ngalor-ngidul, ditemani kue kacang yang
dulu ketika kecil saya sangat menyukainya.
“Nih
Neng, kue kacang kesukaan Eneng,” Ya Allah masih inget aja, itu kan udah
sembilan tahun yang lalu.
“Yang
ini masukin mobil ya! Buat Eneng nanti di Jogja, sok masukin!” saya menurut saja. Subhanallah banget di bumi ini
saya masih menemukan orang yang menyayangi saya sampai seperti ini, masih ingat
makanan kesuskaan saya ketika kecil.
Semua
cerita masih tentang keluarga kami, masalah-masalah keluarga kami, tentang Aki
Ojak. Sampai tiba pada suatu pembicaraan yang saya tak mengerti karena
orang-orang ini berbicara dengan Bahasa Sunda. Meskipun saya lahir di Sunda
tapi tiga bulan kemudian saya langsung diboyong ke Jogja, jadi belum sempat
belajar Bahasa Sunda. Tapi ada kata-kata ‘Eneng’, ‘Aki Ojak’, ‘wasiat’. Berarti
ngomongin saya. Hayo ada apa?
Kalau
saya menerka mungkin begini, dulu Aki Ojak berwasiat kepada Nenek Titik suruh
jaga saya baik-baik. Setelah di dalam mobil, saya bertanya pada bapak, “Pak
Nenek Titik tadi ngomong apa?”
“Dulu,
waktu Aki’ Ojak masih bisa ngomong Aki Ojak nitipin kamu ke Nenek Titik, mau
dititipin ke Nenek Titik?” saya hanya tersenyum. Ya Rabb, betapa sayang kakek
kepada saya sangat besar, sampai sebelum meninggal pun sempat memikirkan
cucunya yang jauh ini. Mungkin titip di sini bukan berarti harus tinggal
bersamanya, tapi titip sayangi saya.
Ya,
sayangnya Aki Ojak masih bisa saya rasakan dari Nenek Titik dalam hangat
peluknya. Sebelum saya dan keluarga berpamitan dari rumah Nenek Titik beliau
berpesan. Hanya satu pesannya, “Sing pinter, Neng!” subhanallah, dari sini saya
menemukan semangat baru. Meski agak jauh saya belajar, meski susah saya
belajar. Nanti, ketika sukses itu datang bukan hanya saya yang bahagia tetapi
keluarga besar di kampung sana juga ikut bahagia. Dan sebaliknya ketika hancur
bukan hanya saya yang kecewa tapi mereka juga ikut kecewa. Ya Rabb kuatkan
saya.
Di sana
semua mendoakan, “Sing pinter sakolahna, Neng! Biar nanti bisa jadi ustadzah,
jadi dosen, mencerahkan masyarakat.” Itulah doa dari Wa’ Onah, kerabat dekat
kami juga. Ya Allah, di sana pokoknya kalau ketemu orang yang keluar dari mulut
mereka adalah doa. “Ya Allah, Eneng. Udah perawan sekarang.” Itu ucapan pertama
yang dilanjutkan dengan obrolan kemudian akhirnya “Sing pinter sakolahna,
Neng!”
Alhamdulillah
ya Allah, terima kasih atas semuanya. Saya pun mohon doa pada pembaca sekalian.
Semoga kita sama-sama sukses nantinya, nanjah
ma’an!
S
ebetulnya
saya masih ingin bercerita tentang mobil bapak yang ritingnya ringsek gara-gara
nabrak LGX waktu macet di Gombong jl. Yos Sudarso nomer 600 berapa gitu. Juga
kami yang pulang melalui jalur pantai, asik sekali pokoknya. Tapi saya belum
mandi dan waktu juga sudah semakin sore. Jadi sampai sini dulu ceritanya yaa..
Semoga
bermafaat. Saya juga mengucapkan terima kasih bagi siapa pun yang sudah mau
membaca catatan ini. Tak bisa membagi oleh-oleh berupa makanan, maka inilah
oleh-oleh untuk kawan semua.
Wassalamualaikum
wr. wb.
Selasa, 06 Agustus 2013
Kamis, 01 Agustus 2013
Petualangan Imajinasi
JudulBuku : Kado dari Kairo
Penulis : Jauhar Ridloni Marzuq
Penerbit : Media Sathira
Cetakan : Pertama, Mei 2013
Ukuran : 14 x 21 cm
Isi : xi + 298 halaman
ISBN : 978-602-18694-2-0
Kado dari Kairo merupakan buku karyaJauhar Ridloni Marzuq. Buku ini berisi pengalaman-pengalaman penulis semasakuliah di bumi para Nabi juga perjuangannya dalam mendapatkan kuliah itu.
Jauhar yang memiliki kecerdasan otakdan ilmu serta wawasan yang luas membuatnya mampu mendapatkan beasiswa untukbelajar di universitas Islam tertua di dunia. Namun tak semudah membalikkan telapak tangan, untuk mendapatkan itusemua Jauhar harus di uji berkali kali dengan hal yang tak diduga-duga.
Jika kado identik dengan hal yangmanis lagi romantis, maka dalam buku ini Anda tak akan pernah menemukan halitu. Tak seperti Andrea Hirata yang menerjemahkan sainsnya dalam sastraberbalut majas yang hiperbola, juga tak seperti Tere Liye yang menebar cinta disetiap kata-katanya. Karena ‘kado’ di sini bukanlah suatu pokok yang menjadi alurcerita di dalamnya, tetapi sebuah ilmu yang penulis berikan melalui wawasannya.Buku ini sebenarnya hanya untuk Ayah dan Ibu penulis yang telah empat tahunlebih berpisah dengan anaknya, menjadi kado paling romantis ketika penuliskembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Tapi penulis pikir mungkin buku iniakan jauh lebih bermanfaat apabila dikonsumsi oleh khalayak ramai.
UntukAnda yang mungkin berencana mengejar S1 di Al-Azhar University, buku ini akanmemberikan sedikit banyak gambaran tentang Al Azhar. Mulai dari asrama,ujiannya yang tak muat hingga memanfaatkan lapangan parkir, hingga potretdosen-dosen Al-Azhar yang begitu rendah hati dan sederhana. Tak ketinggalanpenulis juga memaparkan sejarah berdirinya Al-Azhar juga sejarah tentang Negaradi mana Al-Azhar itu berdiri yang saya sendiri selalu lupa siapa dan dari dinastyapa.
Mesirmemang Ibu Peradaban Dunia, yang di dalamnya menyimpan nilai history yangbegitu tinggi. Penulis memaparkannya dengan sangat baik. Tanpa ada basa-basi,tak perlu majas-majas yang hiperbolik, yang ada hanya to the point namun mengena di hati.
BagiAnda yang sedang belajar Bahasa Arab, untuk menambah wawasan buku ini sedikitmenjelaskan kaidah-kaidah Bahasa Arab Ammiyah. Yaitu Bahasa Arab pasaran, ataukalau di pondok saya di sebut juga dengan bahasa rusak. Kalau di Indonesiamungkin disebut dengan bahasa gaul. Misalnya anta menjadi enta, ji’tu menjadi gi’tu. Bahasa Arab seperti ini tidak terlalu diajarkan dikebanyakan pondok di Indonesia, yang diajarkan yaitu bahasa Fushah atau bahasa resmi.
Dalambuku ini penulis menggunakan sudut pandang ‘saya’ dan ‘Anda’ yang terkesanlebih resmi dibanding ‘aku kamu’. Namun penggunaan ‘saya’ membuat buku initidak terkesan egois seperti penggunaan ‘aku’. Dan penulis lebih fokus padaobjek-objek menarik yang ia ceritakan berdasarkan pengalaman penulis. Tidakseperti kebanyakan novel yang memang menceritakan tentang seorang tokoh yangfokus pada perjalanan hidup tokoh hingga asmara sang tokoh. Buku ini memangbercerita tentang pengalaman penulis di Mesir tetapi bukan penulis yang menjaditokoh utama melainkan Mesir itu sendiri.
BudayaMesir menyambut Ramadhan diceritakan dengan sangat cantik. Jika di Indonesialampion digunakan untuk menyambut Hari Raya, tetapi di Mesir lampion digunakanuntuk menyambut bulan suci Ramadhan. Tentu saja di Mesir namanya bukan lampiontapi Fanous. Penulis pun takketinggalan menyampaikan sejarah dari Fanousitu sendiri. Pokoknya buku ini sarat dengan sejarah. Mungkin penulisnya memangsuka dengan sejarah. Di setiap lini penulis selalu bermain dengan sejarah.Sampai membuat saya bertanya-tanya, dulu penulis nilai pelajaran TarikhIslam-nya dapat berapa? Mumtaz kali yaa..
Jikadi Indonesia Hari Raya disambut dengan sangat meriah. Seperti takbiran bersamadi masjid juga takbir keliling dengan obor yang dihias begitu menarik sertaminiatur berbau agama Islam yang menyala warna warni dengan lampu neonnya, takketinggalan petasan mahal yang diledakkan sana sini, ketupat, opor, dan jugaanimo mudik. Semua itu tak akan Anda temui di Mesir. Di Mesir takbiran tidakdikeraskan, bahkan penulis sampai ketinggalan shalat Ied ketika pertama kalishalat Ied di Mesir. Disebabkan penulis tak mendengar ada takbir berkumandangyang ia jadikan patokan akan dimulainya shalat Ied.
Yangpernah saya tahu ada beberapa Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir) yangmerayakan Idul Fitri dengan caranya yang unik. Karena mungkin saking kangennya dengan takbiran diIndonesia mereka takbiran sendiri di dalam flat¸dengan alat seadanya seperti galon aqua, botol sirup kosong , juga sendok yangdipukulkan dengan gelas, salah satu dari mereka ada yang menjadi vocalis danmerangkap sebagai sutradara. Mereka bertakbir bersama-sama penuh penghayatanjuga penuh rasa rindu Ibu Pertiwi. Tak lupa mereka mengabadikan dalam sebuah video yang diedit denganucapan-ucapan yang bagi saya cukup membuat orang tersenyum ketika membacanya.
MenjadiMasisir memang sebuah pengalaman yang seru dan menyenangkan. Saya pun ingin,jika ada rezeki nanti.
Selamakita masih hidup, ke mana pun kaki melangkah kita masih tetap berada di bumiAllah. Ketika berada di luar negeri, rasa rindu terhadap bumi pertiwi memangtak mungkin terbendung. Dan di situlah kita mulai sadar betapa indahnya negerisendiri walau dirundung korupsi dan kolusi. Mesir yang hanya punya Nil,tentunya iri dengan hijaunya hutan kita, tambang kita, alam kita, nusantara.
BagiAnda yang belum diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi Bumi Para Nabiini, bacalah Kado dari Kairo, Jauhar Ridloni Marzuq akan membawa Andaberpetualang bersama menemui titisan Cleopatra. Ketika saya membaca ‘PesonaKota Alexandria’ saya tertidur kemudian bermimpi berada di kota pantai nanindah tersebut. Mesir yang punya banyak julukan itu, saya pribadi menjulukinyasebagai Negeri Impian.
Kadodari Kairo, buku yang menjadi kado bagi Ayah dan Ibu penulis ini, kalau bolehsaya Ge Er saya pun menganggapnya sebagai kado untuk saya di liburan akhirtahun ajaran ini. Belum bisa mengunjungi Mesir secara langsung seperti yangdilakukan beberapa kakak kelas melalui program study tour, tapi tak apa. Karena buku ini telah membawa saya keNegeri Impian melalui imajinasi dan mimpi.
Terimakasih atas kadonya…
Senin, 22 Juli 2013
Ramadhan Pendewasaan: Antara Birrul Walidain dan Amanah

Assalamualaikum…
Alhamdulillah,
Allah masih memberi saya kesempatan untuk menyentuh keyboard ini. Setelah lima
bulan lamanya saya tak bergelut dalam bidang tulis menulis dan blogging karena alasan studi. Oke, dalam
artikel Ramadhan tahun ini, saya ingin sedikit bercerita yang semoga bermanfaat
untuk kawan-kawan sekalian.
Kisah
ini berawal ketika saya mengantar Husna, adik saya yang baru masuk TK. Saya
mengantarnya dengan senang hati, sekalian main pikir saya, dari pada di rumah
jenuh.
Saya
dan dan Husna berangkat dengan berjalan kaki, karena lokasi TK memang tidak
jauh dari rumah kami, hanya sekitar 250 meter. Jalan yang kami lewati
dikelilingi oleh sawah yang hijau, kecuali sawah nenek kami yang baru saja
dipanen. Sekolah adik saya ini bukan hanya TK saja lho, tapi ada TPA (Tempat
Penitipan Anak), KB (Kelompok Bermain) alias Play Group, juga SD. Yang semuanya
itu tergabung dalam satu yayasan yang dinamai “Anak Sholeh”. Bagaimana pun nama
adalah doa.
Begitu tiba
di sekolahknya, kami langsung disambut oleh ustadzah-ustadzah dengan ramah. “Assalamualaikum
Mbak Husna,” sapa Ust Rina wali kelas Husna ketika bersalaman dan mencium
tangan gurunya itu. “Liburan ya, Mbak?” Ust Ika menyapa saya. Ust Ika ini
bagaimana pun juga adalah ustadzah saya sejak lama, sejak saya SD kelas 6.
Sampai sekarang Alhamdulillah kami masih berkomunikasi dengan baik.
Saat saya
menaruh tas Husna di lokernya, saya bertemu dengan Ust Retno, ustadzah di TPA
Al Hikmah masjid kami juga. Saya bersalaman dengannya, kemudian beliau memberi
amanah pada saya, “Mbak, nanti saya ada urusan ke Magelang. Terus di masjid ada
tamu, tolong Mbak Alfin berangkat lebih awal ya. Jadi saya ngundang kerabat
buat mendongeng nanti di masjid sebelum ta’jilan, tolong ya, Mbak,” katanya.
Saya hanya
bisa menjawab, “Insya Allah, Bu.”
Waktu
menunjukkan pukul 08.00, “Oke anak-anak pagi ini kita akan belajar upacara,”
teriak Ust Ika meskipun sudah menggunakan pengeras suara. Ust Ika ini badannya
kecil, mungil, dengan jilbabnya lebar dan seragam coklat Pegawai Negeri, cute
pokoknya. Ketika komando sudah diteriakkan, ada anak yang sudah rapi dan
berbaris, ada yang lari ke sana-sini, ada yang masih tertawa bercanda dengan
temannya, ada yang butuh tuntunan ustadzahnya sehingga ustadzah yang punya
tangan dua itu pun menggandeng dua anak juga-kanan dan kiri. Tak ketinggalan,
ada yang mengompol, ada yang menangis akan ditinggal ibunya sampai ustadzah pun
menggendongnya.
Ada juga
anak SD, kelas satu mungkin. Sambil menggendong tas merah Hello Kitty-nya
berlari dari arah kelasnya, “Abi, abiiiii, abi mau kemanaaa???” meneriaki
abun-nya yang sudah berada di atas sepeda motor. Merasa tak tega ayahnya pun
tak kunjung pergi. Ayah dan anak ini dibatasi oleh sebuah pagar. Tak lama
kemudian, menyusullah ustadzah anak ini, buru-buru dipeluknya anak ini, “Sudah,
Pak. Terus, Pak! Terus saja, Pak!”
“Mau sama
abiiii, pokoknya sama abiii. Aku nggak mau sekolah di sini!!” teriaknya lucu
sekali. “Abi sudah jauh, Mbak.. di sini aja ya sama ust, nanti kita belajar
jadi anak sholeh,” ustadzahnya menenangkan. “ Nggak mauuu!!! Aku nggak mau jadi
anak sholehhh!! Aku mau abiii,” matanya makin berlinang. “Iya, iya, ambil motor
dulu ya…” ustadzahnya berbohong, diajaknya anak itu masuk dan didudukkan di
samping masjid lalu ustadzah itu pura-pura ambil motor lama sekali. Pura-pura
saja. Pembiasaan yang baik.
Pemandangan
seperti ini sangat langka saya dapatkan karena sibuk dengan aktivitas pondok
yang juga jauh dari rumah. Jadi begitu lihat pemandangan ini berasa wow… lucu
banget sih. Apa lagi di pondok nggak ada kumpulan anak kecil yang banyak banget
seperti ini.
Setelah
masuk kelas saya berpamitan dengan Husna untuk pulang, dan berjanji akan
kembali lagi nanti pukul sepuluh.
Setelah
Husna pulang, saya kembali bergelut dengan adik saya yang satunya, yang sudah
SD tapi tidak masuk karena sakit, Husni. Pagi tadi saya berjanji akan menyampulkan
semua buku tulisnya dengan sampul kertas dan plastik. Begitu Husna melihat apa
yang sedang kami lakukan, dia pun minta buku tulisnya untuk disampul.
Di punggung
buku saya menuliskan mata pelajaran yang digunakan dalam buku itu. Husna juga
minta hal yang sama, dasar tukang iri :p anak TK plajarannya apa sih? Memang
ada Matematika? IPA? IPS? Bahasa?
Walhasil
pelajaran yang kami peroleh untuk Husna adalah Suka-suka, Coret-coret, Menulis,
dan Menggambar.
Tak lama
kemudian adzan dzuhur berkumandang, saya langsung ambil wudhu dan mendirikan
sholat, tapi kemudian juga tumbang di atas kasur. Sampai jam 15.30 saya baru
bangun. Haduh, saya juga tak mengerti mengapa seperti ini? Kalau di pondok
saja, dengan bunyi pelk ban yang dipukul dengan besi dari jarak jauh saya
langsung bangun. Tapi di rumah, mamah ngebangunin
berkali-kali saya tetep nggak bangun. Mungkin ini yang orang bilang dengan
istilah “balas dendam”-nya anak pondok.
“kamu
dibangunin nggak bangun-bangun. Bantu bapak itu lho!!! Sudah tahu kebutuhannya
banyak malah nggak bantu-bantu!!!” skak mat deh kalo gini caranya. Akhirnya
saya bantu-bantu bapak. Sampai jam 16.30 baru selesai. Oh my God, I come late.
Di suruh berangkat ke masjid sama Ust Retno pukul 16.15, ini 16.30 baru
berangkat mandi. Pukul 16.45 baru berangkat dari rumah, jalan kaki lagi,
padahal masjid lokasinya agak jauh. Sampai di masjid jam 17.00. God, help me!
Ohh!
Antara
birul walidain dan amanah, pilih mana hayo?
“Ridho
Allah bergantung pada ridho orang tua, murka Allah bergantung pada murka orang
tua” oke, saya lupa riwayatnya. Dari pada sesat saya memilih mengaku lupa. Yang
ingat boleh mengingatkan
“Dan
sembahlah Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dan berbuat baiklah kepada kedua
orang tuamu. Dan apa bila salah satu atau kedua-duanya berusia lanjut dan
berada dalam pemeliharaanmu, maka janganlah berkata ‘ah’ dan janganlah kamu
berkata kasar, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang baik” al-Isra’ ayat
23.
Dua
dalil di atas mejadi pedoman saya ketika akan berbuat dan bersikap dengan orang
tua. Jadi saya memilih untuk membantu ayah saya dulu baru berangkat ke masjid.
Bener nggak sih ini???
Tapi
amanahnya? Ya, begitulah. Ini memang semata-mata adalah kesalahan saya yang
sangat khrm, ngebo kalau tidur. Jadi pelajaran yang dapat saya petik hari ini
adalah; harus menerapkan mahfudzat yang bunyinya, “wa man tholabal ‘ula sahiral
layaali” Artinya: “Dan barang siapa mencari kesuksesan baginya tidak tidur
semalaman.”
Itu
artinya, tapi dibalik arti pasti ada makna yang tersiarat. Tidak tidur
semalaman di sini maksudnya bukan seperti yang tertera tapi sedikit tidur. Jadi
barang siapa mau mendapat kesuksesan kita diperintahkan untuk bekerja keras dan
hanya sedikit tidur. Jadi meskipun puasa jangan banyak-banyak tidur yaa J terutama cewe, kata mama nggak baik.
Oke,
sekian dulu ya kisah dari saya. Hari ini memang hari penguatan buat saya. Sudah
merasa bersalah nggak bisa jaga amanah, Ust Retno afwan yaa.. tambah agak
nyesek karena khrm, sedikit disindir. Okelah, nggak papa, karena puasa itu
butuh sabar. Dan sabar itu nggak ada batasnya, ya kan?
Sebagai
manusia yang diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi ini, tentunya tak
gampang memegang amanah dari-Nya. Banyak rintangan yang harus kita lalui.
Dan kata
Tere-Liye, “Hidup ini tidak seperti novel, yang kalau halaman sekarang terasa
sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah, maka dengan bersabar membaca 10, 20
halaman berikutnya semua selesai, berubah jadi membahagiakan.
Di kehidupan
nyata , kita bahkan perlu 10, 20 hari, bulan, bahkan tahun harus terus bersabar
agar semua selesai, berubah jadi membahagiakan. Karena itulah dewasa oleh
kehidupan, memiliki pemahaman baik karena proses kehidupan, akan menjadikan
seseorang lebih kuat dan lebih kuat lagi.”
Sekian,
undur maa qoola walaa tandur man qoola, lihatlah apa yang dikata jangan melihat
siapa yang berkata..
Wassalamualaikum
wr. wb.
sumber komik: http://komikmuslimah.blogspot.com/search/label/Ramadhan
Senin, 01 Juli 2013
Salam-Salaman
Assalamualaikum.
Tak terasa ya, 5 bulan berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya posting "My Activities", ternyata sudah lima bulan yang lalu. Cepat sekali.
Ya, pulang ke rumah dengan embel-embel anak pondok itu nggak mudah, kawan. Apa lagi pakai bawa-bawa nama Gontor. Haduh, berat banget mbak.
Papah Agus Mulyana, S.Ag. pernah berpesan, "Kalau bertemu dengan ibu guru di SMP salami dan cium tangannya. Tapi kalau dengan bapak guru cukup dengan isyarat saja, kan kalian sudah dewasa."
Niatnya, saya sih mau mengabaikan pesan yang ke-dua itu. Tapi ternyata begitu saya sampai di SMP, tanpa saya yang mengisyaratkan bapak-bapak guru sudah mengisyaratkan duluan. Duh, jadi nggak enak. Apa lagi Pak Sulis, guru favorit saya waktu di SMP dulu, hahaha.. tapi ya sudahlah nggak papa, baiknya memang begitu. Tadi senyum beliau lebar banget. Lama nggak lihat senyumnya yang begitu :D
Tambah lagi yang bikin saya dilema hari ini, kakak sepupu saya yang paling ganteng, Memo Yuti Irawan dateng ke Jogja, dari Bangka. Apakah saya harus salaman? Terlepas dari jawaban itu mau nggak mau memang saya harus salaman, karena ya saudara dari jauh lama nggak ketemu dan langka banget kesempatan buat ketemu. SImbah bolak-balik tanya, "Dah salaman belum?" ya sudahlah, masalah ini sepertinya memang menyesuaikan situasi dan kondisi ^^
Happy Holidays
Langganan:
Postingan (Atom)


