Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

Soal ke-40


“Ting-tong, ting-tong…” bel tanda pergantian jam pelajaran berdendang dengan ritme yang rapi beraturan. “Wah, habis ini pelajaran Seni Musik ya… Aduh, ulangan lagi,” coloteh Elfa tak jelas pada siapa. “Hmmm, iya. Kamu udah mempelajari materi yang dikasih sama Pak Fata belum, El?” Suta, teman sebangku Elfa menyambung coloteh Elfa. “Udah kok. Bismillah aja deh pokoknya,” singkat Elfa.
“Selamat siang. Assalamualaikum,” salam Pak Fata yang selalu on time tiba di kelas. “Siang, Pak. Wa’alaikumsalam,” sapa balik siswa-siswi hampir serempak. “Hari ini ulangan ya? Sudah belajar kan?” Pak Fata menyiapkan soal. “Jangan khawatir, soalnya mudah kok,” sambungnya. Siswa-siswi terdiam karena tak yakin soal itu benar-benar mudah. Sebab definisi mudah seorang guru bebeda dengan definisi mudah seorang siswa.
Dalam hitungan lima menit soal telah sampai di tangan para siswa. Sekilas  mereka mengerjakan dengan tekun. Pak Fata duduk di kursi guru mengawasi para siswa  dengan sabar. Untuk menghilangkan kejenuhan Pak Fata memainkan jemarinya di atas keyboard  laptopnya. Entah apa yang Pak Fata lakukan, tak ada siswa yang tahu. Yang jelas Pak Fata sedang sibuk dengan laptop dan jemarinya.
“Maaf, Pak. Apa soalnya memang betul berjumlah 39 butir?” seorang siswi yang duduk di bangku paling depan bertanya memecah keheningan situasi ulangan. “Kerjakan dulu yang ada ya, Nak. Nanti bapak beri penjelasan,” para siswa menjadi penasaran setelah mendengar jawaban dari Pak Fata.
“Suta, kok soalnya nggak sesuai sama materi yang dikasih Pak Fata ya. Kalau gini kan jadi susah ngerjainnya,” bisik Elfa lirih pada Suta. “Wah, aku nggak tahu El. Aku nggak belajar materi itu, tadi malem malah sibuk mainan komputer. Hehe…” jawab Suta tanpa merasa bersalah. “Yah, kamu…” Elfa kecewa.
“Elfa, boleh liat jawaban nomer 37 nggak?” tanya Suta. “Boleh, nih liat aja,” Elfa mengiyakan. “Eh, punya kamu nomer 25 apa?” sambung Elfa. “Nggak tahu. Tapi kalau menurutku sih D, menurut kamu?” Suta bertanya balik. “Emh, kayaknya iya deh. Kita jawab D yuk!” ajak Elfa yang diikuti anggukan kepala Suta.
45 menit berlalu. Jam pelajaran tersisa 25 menit. Pak Fata memberi perintah kepada para siswa untuk mengumpulkan soal ulangan dan lembar jawaban ke meja guru. Setelah semua siswa kembali duduk di tempat masing-masing, Pak Fata berdiri di hadapan para siswa dan siap memberi wejangan.
“Oke, tadi kan ada yang tanya tentang jumlah soal. Begini, soal pilihan ganda memang 39. Namun, bapak masih punya satu soal lagi untuk kalian supaya soalnya genap menjadi 40 butir,” Pak Fata membuat penasaran lagi. “Nak, mengakui perbuatan yang tercela itu sangat sulit. Tapi mungkin akan lebih mudah mengakui perbuatan yang terpuji. Oleh karena itu bapak ingin bertanya, siapa tadi yang mengerjakan soal dengan jujur dan murni tanpa melihat atau bertanya jawaban pada teman?” pertanyaan yang menikam tajam tepat di relung nurani masing-masing siswa.
Hening. Tak ada yang mengangkat tangan. “Tidak ada, Nak? Masak dari sekian banyak siswa di kelas ini tidak ada yang mengerjakan soal ulangan dengan murni. Apa setiap kali ulangan kalian seperti ini?” masih hening. “Kalian kenal Gayus? Pasti kenal dong, siapa sih yang nggak kenal Gayus. Kenapa dia terkenal? Karena korupsi. Dia kerja apa? Mengurusi pajak. Dulu sekolah di mana? Di STAN, dan perlu kalian tahu orang yang masuk STAN bukan orang sembarangan. Tapi orang yang benar-benar cerdas. Tapi karena Gayus tidak punya iman maka dia jadi cerdas menipu.”
“Hal ini bisa terjadi karena tidak ada penerapan kejujuran sejak awal. Ya dimulai dari hal kecil seperti ulangan harian ini. Oleh karena itu, saat ini pemerintah menerapkan sistem pendidikan karakter. Ini dilakukan supaya nantinya tidak akan muncul koruptor-koruptor yang lebih hebat lagi,” jelas Pak Fata. “Nah, sekarang saya yang bingung. Apa yang harus saya lakukan dengan nilai kalian itu? Karena bukan murni pekerjaan kalian mau dibagi-bagi juga susah. Saya kecewa, Nak! Lain kali kalau ulangan dikerjakan sendiri ya.” Pak Fata mengakhiri wejangannya.
Bel istirahat berbunyi mengiri dekak sepatu langkah Pak Fata yang keluar dari kelas. Para siswa berhambur dan tersisa beberapa yang tinggal di kelas. “Anis, kamu tadi nggak murni ulangannya?” tanya Elfa. “Enggak. Aku ada yang tanya Una tadi. Lha kamu juga nggak murni El?” Anis memastikan. “Enggak. Aku diskusi sama Suta. Wah, keren ya Pak Fata. Wejangannya ngena banget. Aku nyesel tadi diskusi, pokoknya besok kalau ulangan aku bakal belajar semua materi dan buku yang ada supaya nggak kayak gini lagi. Kita belajar materi dari guru, eh ternyata yang keluar materi dari buku,” sesal Elfa.

Sumber: Konektor, 1 Juli 2012

Senin, 16 Januari 2012

Cerpen 4# Keping yang Pergi

Sang surya kian beranjak dari ufuk timur tempat terbitnya. Jam di dinding kelas 9 A menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tak lama kemudian bel tanda masuk berdering-dering dengan nada yang tak asing di telinga, seperti bel tanda keberangkatan kereta, “Ding, ding, ding, ding.” Ya kurang lebih begitulah.

Gina dan kawan-kawan akhwat anak kelas 9 A mulai bersiap-siap untuk berganti pakaian olah raga sebab pelajaran jam pertama adalah olah raga. Selepas dari WC, mereka kembali ke kelas untuk menaruh seragam OSIS lalu keluar lagi untuk menuju lapangan.

“Wow,” dalam hati Gina terpesona oleh pemandangan yang baru saja ia lihat begitu keluar kelas. Matanya berbinar menatap tak berkedip, penuh sirat akan rasa kagum yang bergejolak dalam dada. Ah, indahnya jatuh hati.

Sesosok pria bertubuh kurus, tidak atletis, tidak terlalu tinggi namun masih lebih tinggi pria itu daripada Gina. Segala yang dilihat terpantul dari kaca mata minus yang bertengger di hidung mancung pria itu. Mungkin dia tak sesempurna sebagaimana pria idaman wanita. Namun dia punya karisma di mata Gina.

Berkelabat. Semua itu hanya sekejap. Pria itu hanya lewat, tujuannya adalah ruang mahasiswa yang sedang PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di sebelah barat kelas Gina. Cukup membuat jantung berdebar, namun hanya sebentar. Gina masih harus melanjutkan pelajarannya.

Entahlah, Gina selalu mudah jatuh hati pada pria. Terutama pria yang lebih dewasa. Seperti kakak PPL saat ini contohnya. Dulu ia juga sempat jatuh hati pada guru Fisikanya. Pertama memang Gina disayang olehnya sebab Gina adalah anak yang cukup cerdas di kelas. Namun seiring berjalannya waktu, guru itu pun tahu dan berubah menjadi tidak senang pada Gina. Sebetulnya Gina hanya nge-fans saja pada guru itu. Tapi teman-teman Gina terlalu berlebihan meresponnya, suka bilang-bilang gitu deh. Akhirnya guru itu jadi tidak suka dan malah jutek pada Gina.

Tapi ya sudahlah itu masa lalu, Gina juga sudah melupakannya. Biarkan hatinya membuka pintu untuk orang lain. Mungkin kakak PPL ini salah satunya. Gina bertemu untuk yang ke-dua kalinya di perpustakaan. Perpus memang baru saja mendapat banyak hibah buku dari dinas. Maka sangat dibutuhkan tenaga untuk meng-entri buku-buku itu. Jadilah anak PPL sebagai suka relawan. Hihihi.

“Ehm, jadi relawan perpus ya, Kak,” sapa Gina. Beruntungnya Gina memang suka membaca novel dan sering ke perpustakaan. “Iya nih, mau bantu po?” tanyanya. “Nggak deh, Kak. Makasih.” Singkat Gina.
“Kamu kelas berapa e?” ihir dia tanya lagi. Suaranya pelan dan lembut sekali, sampai-sampai Gina nyaris tidak dengar. “Kelas 9, Kak,” jawab Gina malu-malu. “Wah sudah kelas 9 ya. Mmm, harus banyak belajar kamu, jangan main-main ya,” ci elah, kakak itu malah menasihati Gina. Betapa berbunganya hati yang dinasihati. “Insya Allah,” Gina sok alim.

Perjumpaan itu memang cukup singkat. Hanya beberapa menit diwaktu istirahat. Namun begitu berartinya bagi Gina. Hatinya serasa melayang di angkasa, hanya karena ditanya dan bisa berbicara pada kakak itu. Remaja, aduhai memang dunia yang begitu gemerlap indah penuh bunga-bunga. Sayangnya, Gina lupa bertanya siapa nama kakak itu. Lupa, sungguh sifat yang manusiawi. “Semoga Allah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan kakak itu lagi,” Gina berharap.

Bulan Agustus memang bulan di mana PPL baru dimulai. Dan pada bulan Agustus juga bertabrakan dengan bulan puasa. Setiap bulan puasa sekolah selalu mengadakan buka bersama selama tiga hari. Hari pertama untuk anak kelas 9, ke-dua untuk anak kelas 8, dan ke-tiga untuk anak kelas 7.

Gina adalah pengurus OSIS, ia menjabat sebagai koordinator keagamaan. Jadi Gina bukan hanya berangkat pada hari pertama saja, namun ke-dua juga ke-tiga. Asyiknya, kakak-kakak PPL Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta yang berjumlah 18 orang itu juga dimintai bantuan untuk mengabsen para siswa selama tiga hari itu juga. Betapa dengan senang hati Gina melakukan tugasnya, jelaslah karena dia bisa bertemu dengan kakak yang ia kagumi selama tiga hari. Bayangkan! Tiga hari!

Tugas Gina dan kawan-kawan pengurus OSIS lainnya adalah membagikan makanan di tiap kelas saat para siswa sedang mengikuti pengajian menjelang buka puasa di aula. Setelah semua siswa masuk kelas untuk makan, maka Gina bertugas mengecek apakah ada yang kurang atau tersisa. Nah saat itulah, kebetulan sekali mushola menghadap koridor yang dipakai Gina berjalan wara-wiri dan di situ kakak yang Gina kagumi sedang duduk. Gina hanya mampu menganggukkan kepala dan tersenyum manis penuh sipu. Pipinya merah jambu.

Itulah kejadian yang Gina alami saat buka puasa hari pertama. Indah bukan buatan bagi Gina.
Hari ke-dua. Gina memang sedang tidak sholat alias haid, jadi dia tidak puasa. Dikarenakan tugas, maka Gina tetap berangkat untuk buka bersama. Tiba waktunya sholat tarawih. Semua bersiap sholat di aula setelah berwudhu. Termasuk kakak-kakak PPL. Tapi ada satu kakak PPL yang tidak sholat karena sedang haid juga. Jadi Gina memilih untuk duduk di ruang PPL bersama kakak yang haid itu.

Mbak Dewi namanya, dia jurusan pendidikan Bahasa Indonesia. Kalau Gina ngomong dengan dia sudah pasti nyambungnya. Novel, ya apa lagi selain itu yang mereka obrolkan? Baru sekitar lima menit mereka ngobrol, tiba-tiba, “Jeglek!” pintu terbuka.

Rupanya para kakak PPL yang tidak berhalangan urung melaksanakan ibadah sholat tarawih, termasuk kakak yang dikagumi Gina. Mereka berada dalam satu ruangan yang boleh dibilang cukup sempit, ukurannya sekitar 3×6 m. Tidak semua kakak PPL sih. Ada beberapa yang masih teguh imannya. Lho? Berarti kakak yang dikagumi Gina nggak teguh dong imannya? Ya, nggak tahu juga. Alasan mereka sihtidak mendapat tempat katanya, aula penuh jadi mereka memilih ngumpet di ruang PPL.

Deg, deg, deg. Hati Gina bernyanyi dengan gugupnya di atas panggung sandiwara cintanya. Kakak itu duduk di sebelah Gina, tepat banget sebelahnya, deket banget. Tangannya merangkul kursi Gina lagi. Tapi Gina berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Ah, ya Tuhan. Godaan-godaan, hush syah pergi sana. Biar begitu namun Gina senang.

Setelah bertanya tentang Gina itu siapa-maksudnya bertanya nama pada Gina, kelas berapa apa, alamatnya di mana, wah kayak udah mau macarin aja ni orang. Sayang, dia tak bertanya ukuran baju ataupun sepatu. “Oh, kamu yang di perpus nyapa aku itu ya? Wah pantes kok kayaknya pernah lihat,” memori kakak itu tiba-tiba terbuka. Gina hanya tersenyum.

“Mmmh, bapak kamu… bapak kamu…” katanya tiba-tiba merangkai sebuah rayuan gombal. Gina pun sudah menyadari adanya sinyal rayuan itu. “Wah-wah, kayaknya aku tahu nih, Kak. Cukup ya, cukup. Jangan dilanjutkan, OK!” Gina mencegah namun kakak itu tetap melanjutkan rayuannya. “Bapak kamu penjual jaket ya?” tanyanya. Gina tahu ini bukan rayuan gombal seperti seorang cowok berbicara pada pacarnya. Tapi ini hanya “bercanda”. Maka Gina melayaninya, “Kok tahu sih?” “Karena kamu telah menghangatkan hatiku,” menjwablah kakak itu dengan nada sok romantis. Seluruh isi ruangan cekikikkan dengan ditahan, karena kalau dilepaskan bisa-bisa ketahuan guru jaga dan dimarahi nanti karena mengganggu kelancaran ibadah tarawih.

Sungguh malam yang berkesan bagi Gina. Gina berusaha santai dan menyembunyikan gemuruh dalam dadanya. Bercanda yang menyenangkan bagi Gina, olehnya Gina dibawa tidak tidur semalaman. Maksudnya sampai di rumah Gina tidak bisa tidur gara-gara memikirkan bercanda yang menyenangkan yang barusan ia alami, bukan ia semalaman tidak tidur karena bercanda dengan kakak yang ia kagumi.

Sayang sekali, malam yang paling menyenangkan memang berada dimalam ke-dua. Malam ke-tiga, kakak-kakak banyak yang bolos termasuk kakak yang dikagumi Gina.

Bulan Ramadhan, bulan yang suci, bulan yang mulia kini hampir usai dimakan roda masa yang terus berputar tanpa ada yang mampu menghentikan kecuali Dia. Kalau pun bisa dihentikan, Gina hanya ingin berada dimalam ke-dua buka bersama itu. Biarlah malam yang tak terulang itu menjadi kenangan indah di hatinya.

Lebaran pun tiba. Di tengah liburannya yang sepi, Gina hanya melamun tak tentu arah. Dalam lamunannya Gina baru tersadar bahwa kakak yang ia kagumi adalah mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa Inggris, dan yang membimbing dia dalam menjalankan PPL ini adalah guru Bahasa Inggris Gina sendiri. Tanpa ragu Gina mengirim sebuah pesan singkat pada gurunya yang kurang lebih begini bunyinya, “Maaf, Bu. Saya ingin bertanya. Kakak PPL jurusan Bahasa Inggris yang mengajar kelas 8 G, yang berkaca mata itu namanya siapa ya, Bu?”

Dalam hitungan jam, masuk sebuah pesan singkat di hanphone Gina, “Muh. Sodiq.” Singkat sekali. Ooo, jadi namanya Muh. Sodiq.

Hari berganti hari, liburan usai saatnya masuk sekolah lagi. Waktu PPL masih tesisa dua bulan. Namun dalam dua bulan itu tak ada hal yang istimewa terjadi. Sebelum kakak PPL pergi Gina ingin sekali mengucapkan sampai jumpa. Maka diawal bulan Oktober itu ia memberanikan diri bertanya dan masuk ruang PPL untuk kesekian kalinya, “Kak, PPL-nya kapan selesai?” Kak Sodiq langsung menjawab, “Mungkin sekitar tanggal 15 Oktober, kenapa? Ada apa? OSIS mau ngadain acara lagi?” “Ah, enggak. Besok kalau mau pulang aku dikasih tahu ya?” pinta Gina. “Insya Allah,” Kak Sodiq mengusahakan.

Tapi sayang seribu kali sayang. Ketika itu, tanggal 8 Oktober 2011 saat tiba waktunya pelajaran Bahasa Inggris di kelas Gina namun gurunya tak kunjung datang juga. Akhirnya Gina memutuskan untuk mencari gurunya di kantor guru tapi tidak ada. Ada yang bilang sedang di aula. “Ada acara apa di aula? Jangan-jangan…” pekik Gina dalam hati dan langsung berlari ke aula.

Benar apa yang ia kira. “Kak Sodiq bohong!” Gina mnjerit dalam hati. Ia langsung berlari ke kelas. Di aula memang terlihat kakak-kakak PPL sedang berjabat tangan pamitan dengan para guru pembimbing termasuk guru Bahasa Ingris Gina.
Ternyata jadwal selesai PPL diajukan satu minggu dari yang dikatakan kak Sodiq. Bukan. Bukan karena itu Gina kecewa. Tak masalah kapan PPL usai. Tapi Gina kecewa karena Gina tak diberi tahu oleh Kak Sodiq. Kak Sodiq tak meralat jawabannya waktu itu. Gina merasa dibohongi. Kebohongan yang hampa.

Bagi Gina, Kak Sodiq adalah sosok kakak yang hangat, perhatian, dan ramah. Hanya dia kakak PPL yang suka bertanya pada anak kelas 9. Lainnya pendiam. Meskipun hal yang ia tanyakan sangatlah tidak penting seperti, “Kok belum pulang? Pulang sana, nanti dicari ibu lho.” Tapi yang terpenting adalah nilai perhatiannya. Sungguh menjadi kakak idaman bagi seorang Gina yang anak sulung.

Sepulang sekolah Gina mengecek di parkiran. Tidak ada. Motor mereka telah lenyap, parkiran lengang. Seperti ada yang kurang dan hampa. Sehampa hati Gina yang baru saja kehilangan sekeping dari bagiannya. Entah, Gina tak tahu di mana kini keping itu berada. 

Rabu, 04 Januari 2012

Cerpen 3# Sahabat Sekilas

Dari balik jendela kamarku nampak matahari tersipu penuh malu. Menyibak hawa dingin pagi bawaan musim kemarau tahun ini yang setia menyelimuti. Tak jarang bulu kudukku berdiri di sela gigil tubuh kurus ini, brrr!!!
“Haaachim, chim, chim !!” perbedaan suhu yang begitu extrim membuat daya tahan tubuhku melemah. Sebetulnya hari ini aku ingin beristirahat di rumah. Namun apa daya, aku harus menyelesaikan ujian terakhirku. “Elfa, cepetan turun ! Bunda udah siapin sarapan nih,” teriak bunda memanggilku. “Ya, Bunda. Elfa turun,” kataku sembari memanggul tas hitam kesayangnku.
Pagi ini aku tak selera makan. Semua makanan terasa hambar di mulutku. Aku hanya menghabiskan setengah dari porsi bisaanya. Selesai makan, akupun berangkat sekolah bersama CRV-ku yang setia setiap saat seperti Rexona.
Tepat pukul 17.30 ujian usai. Bel berbunyi, aku melangkah gontai meninggalkan ruang ujian. Bukan tenang atau euphoria yang kurasa. Justru kekhawatiran terhadap NEM yanga kan aku peroleh  nantinya. Dan aku pulang dengan hati yang dag dig dug.
Saat melangkah menuju parkiran aku tenggelam dalam lamunan sembari memandang kelu lantai koridor sekolah. Pikiranku melayang kemana-mana. Gelisah tak terarah. Dan tiba-tiba…. “Gubrakkk !!”
“Ouch, sory…” pekikku pelan. Tanpa sadar rupanya aku menabrak seorang gadis yang berjalan tergesa dari arah berlawanan. Kami jatuh tersungkur. Buku yang dia bawa tumpah ruah berceceran. Tanpa ba bi bu dengan cekatan ia memungut bukunya yang berserakan di sana-sini. Belum sempat aku membantu tapi ia sudah selesai merapikan semuabukunya. Sesaat kemudian ia kelabakan meraba-raba saku seragamnya. Aku rasa ada barangnya yang hilang.
“Kenapa ? barang kamu ada yang ilang ?” tanyaku. Tapi ia hanya tersenyum. Tak lama kemudian ia melempar pandangan ke seluruh penjuru koridor . dan setengah merangkak ia menuju parit kecil depan koridor. Menerawang jauh kedalam air. Dengan raut yang menunjukkan rasa sungkan ia menyingsingkan lengan tangan kanan seragam panjangnya sembari menggenggam kecil ujung jilbab putih yang ia kenakan. Lalu ia merogoh pelan menuju dasar parit. Terkejut aku melihat barang yang diambilnya, iphone 3G yang basah kuyup.
“Aduh, maafin aku ya… Gara-gara aku HP kamu jadi basah. Rusak nggak ?” tanyaku khawatir. Tapi lagi-lagi ia hanya tersenyum manis, manis sekali. Tak ada raut marah di wajahnya. Padahak HP nya basah kuyup dan mungkin rusak parah gara-gara tabrakan tadi. Berkali-kali ia coba menyalakan HP-nya. “Bagaimana ? bisa nyala ?” Tanyaku. Berharap bisa namun ia menggeleng kepala.
“Maaf ya… aku janji deh bakal ganti HP kamu,” kataku. Dan lagi, ia hanya tersenyum sambil menggeleng kepala pertanda menolak tawaranku. “bener nih aku nggak usah ganti ? aku nggak enak banget sama kamu,” rayuku. Tanggapanya  hanya gelengan kepala dan senyuman yang seakan tak pernah habis. Lalu ia memeluk bukunya yang telah rapid an bergegas pergi.
Akupun bangkit dan melanjutkan langkah menuju parkiran. Dan, ah aku lupa bertanya siapa nama gadis itu. Ketika aku membalikkan badan ia sudah menghilang diantara hiruk-pikuk siswa lainnya. Cepat sekali dia berjalan.
Kebetulan anak-anak kelas IPA?XII-E yang menjadi saksi tabrakanku dengan gadis tadi masih duduk-duduk di dekat TKP. Ku tanyakan pada mereka, “Eh, misi. Ada yang tahu nggak siapa nama cewek yang gue tabrak tadi ?” salah satu dari mereka menjawab, “Oh, Fana maksud loe?” akupun balik bertanya, “Jadi nama dia Fana? Anak kelas mana dia ?” “Anak IPA/XII-B”, jawabnya singkat. “Oya ? tapi gue nggak pernah liat tu anak sebelumnya ? padahal gue anak IPA/XII-A,” gumamku. “Ya iyalah secara dia pindahan dari Jogja. Baru dua bulan ini dia sekolah di Jakarta. Kenape ? Naksir loe ?” pertanyaan yang membuatku kaget. “Ah, apaan sih loe. Ada-ada aja. Thanks ya, gue cabut dulu,” kataku menutup obrolan.
Ku akui Fana memang cantik. Matanya bulat dan berbinar menunjukkan kecerdasannya. Bibirnya tipis dan itu membuat senyumnya semakin manis dan kalem menurutku. Dan ia tampak anggun dengan  jilbab yang menutup aurotnya. Tapi, kenapa dia tidak mau berbicara sepatah katapun padaku ? ah, mungkin dia sedang sakit tenggorokan. Tanpa aku sadari, benih-benih cinta tumbuh dengan sendirinya .
Pukul 12.30 aku tiba dirumah disambut oleh bunda yang telah siap bersama masakannya. Kalau sudah begini aku tak kuasa untuk menolak makan. Setelah itu aku minum obat  dan tidur agar keadaanku pulih seperti semula.
Karena ujian telah usai, maka hari-hari berikutnya adalah hari santai. Kami, para siswa SMU Putra Bangsa bebas untuk tidak berangkat sekolah kecuali pada hari yang dianjurkan. Aku menggunakan waktu itu untuk beristirahat total. Meski sakit yang kuderita ini hanya flu, tapi menurutku flu juga sangat menyiksa.
Lima hari sebelum pengumuman kelulusan, bunda mengajakku bersilaturahmi ke rumah Tante Tara. Hari itu aku sudah terbebas dari flu, jadi aku terima ajakan bunda. Kami ngobrol banyak disana, termasuk tentang kelanjutan pendidikanku setelah lulus SMU nanti. Lamaaa sekali bunda ngobrol dengan Tante Tara.
Kami baru pulang ketika langit semakin menampakkan jingga emas senjanya. Mentari telah menyinari 12 jam tanpa henti. Dan kini perlahan tidur, diganti terbangunnya bulan yang samar menampakkan pesona malamnya. Tajam namun manis, senyum sabitnya seakan menyapa dan begitu menggoda.
Semilir angin malam menyibak lembut jambul landakku yang menyusup melalui celah jendela CRV tungganganku. Sengaja jendela ku buka karena rindu dengan aroma angin alami yang khas. Dingin yang mengelus pipiku menyibak pelan rasa lelah sepulang mengantar bunda dari rumah Tante Tara.
Setelah melewati TOL Cikampek, kamipu belok kiri dan mulai  memasuki jalanan yang sepi ketika malam. Kanan dan kiri jalan ini dipenuhi tanaman tebu  yang lebat, sehingga Nampak gelap dan suram. Pelan namun pasti  mobilku melintasi jalan ini.
“Chiiiittt!!!” aku ngerem mendadak. Tampak seorang gadis berjilbab coklat muda ditarik-tarik oleh dua preman berjaket kulit. Tampang mereka seram dengan tubuh yang kekar. Sedang gadis itu meronta tak bisa berbuat apa-apa agara bisa lari dari mereka. Gadis itu hanya menangis, seperti ingin teriak namun tak bisa karena mulutnya diikat dengan slayer kumal sehingga tinggal matanya saja yang terlihat.
“Elfa, kenapa diam saja ? tolongin dia dong !!” perintah bunda “Tapi, Bun….” Aku marayu. “Cepet !! tunggu apa lagi ? kasihan dia…” kata bunda sambil mengoyak pundakku.
Mauy tak mau karena akupun merasa tak tega akhirnya aku buka pintu mobil dan turun. “Hey, ngapain loe ? beraninya sama cewek doing, cemen loe !!” ledekku pada kedua preman itu.
Mereka menoleh kepadaku seraya salah satu dari mereka berkata “Seharusnya gue yang tanya, ngapain loe ikut-ikutan segala anak kecil ? berani, loe ama kite ?”
“Loh ? kenapa gue mesti takut ame loe berdua ? gue Cuma takut ama Tuhan. Lepasin tu cewek !!” kataku.
“Kalo kite kagak mau, terus loe mau ape, hah ? “tanya preman bercelana rantai. “Udah Bang kita habisin aja dia” provokasi preman satunya. “Sip !! masalah kecil.” Dan ia berjalan menujuku.
Sekilas aku pandang gadis itu Nampak berontak menggeleng kepala keras-keras. Entah, aku tak mengerti maksudnya. Mungkin dia setuju jika aku harus berkelahi. Tapi apapun resikonya gadis itu harus selamat dari para preman kampret ini.
“Plokk !! Aggrh !! satu hantaman tinju mendarat dipipiku. Sakit memang, mulutkupun berdarah.
“Bukk!!”  satu lagi hantaman perutku. Masih sama. Tak ada kata lain selain sakit. Aku tak menyerah. “Bokk !!” aku balas menendang perut salah satu preman itu.
“Kurang ajar !!” hardik sang preman. Ia raba saku jeans sobek-sobek berantainya. Mengeluarkan benda yang mengkilap sehingga memantulkan cahaya lampu mobilku. Oh tidak !! PISAU !!
“haha, mau ape loe anak ingusan ? masih berani loe ama gue ?” tangan kirinya menarik kerah bajuku sedang tangan kanannya menghunus pisau ke leherku. Satu senti hamper menyentuh kulit leherku.
“Wiuwiuwiu,” akupun bingung siapa yang memanggil polisi ? tapi aku bersyukur, mungkin bunda yang memanggilnya. Alhasil, meskipun mencoba lari preman itu tetap diringkus.
Aku dekati gadis itu, berjalan perlahan ke arahnya yang terduduk menangis sendu. Berjongkok pelan dan berkata, “Maaf, boleh aku buka tali yang mengikat tanganmu ?” dan ia mengangguk. Mungkin dia sedikit risi aku menyentuh-nyentuh tangannya. Sebetulnya ada bunda yang mahram terhadap dia. Tapi bunda tak kunjung turun dari mobil.
Sangat hati-hati aku melepaskan tali itu. Sebisa mungkin aku tak menyentuh kulitnya, tapi itu mustahil. Talipun terlepas, pelan-pelan ia gerakkan tangannya. Melemaskan sendi-sendi  yang kaku karena jeratan tambang yang mengikat.
Perlahan, ia raih jilbabnya bagian belakang untuk melepas slayer kumal menjijikkan yang menyekap mulutnya, “Kamu ! kamu yang pernah aku tabrak di koridor dulu itu kan ?” ia mengangguk tersenyum meski bulir masih menetes.
“Terima kasih ya…” katanya dengan suara yang sudah hamper habis” iya, tak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya aku menolongmu. Kamu sakit  ya ? mau aku antar pulang ?” bujukku. Tapi ia menggeleng.
“Siapa Elfa? Dia temanmu ? kita antar ke rumahnya saja, bahaya lho cewek jalan sendiri malem-malem,” sela bunda diantarakami. “Iya, Bun. Kenalin namanya Fana. Aku udah tawarin dia, Bun. Tapi dia geleng-geleng,” jawabku. “Coba bunda yang bujuk. Kamu tunggu di mobil aja gih !” perintah bunda.
Beberapa saat kemudian, Fana dan bunda bangkit lalu berjalan mendekati mobil. Mereka masuk dan duduk di Jog belakang. “Elfa, bunda duduk belakang ya nemenin  Fana,” tutur bunda. “Iya, Bun. Kita kemana nih sekarang ?” tanyaku. “Ya kita pulanglah,” jawab bunda enteng. “Lah, terus Fana gimana ?” tanyaku lagi. “Elfa saying, Fana itu tetangga kita satu komplek,” bunda menjelaskan. “Oh, gitu,” aku melongo bisaa meski dalam hati jingkrak-jingkrak.
“Kamu ini kuper, tetangga baru, temen sendiri, pula, tapi ggak tahu. Fana itu anaknya pak Sulistyo yang dari Jogja itu, yang habis syukuran kemarin itu lho. Sudah, ayo cepetan jalan ! keburu isya” ntar kita bellum sholat maghrib juga khan ?” bunda mengingatkan “Iya iya, Bun, Elfa tahu kok,” sembari sekilas melihat senyum manis Fana dari spion dalam, masih manis seperti saat pertama berjumpa.
“Brrrm”, mobil menyala lamat-lamat lading tebu yang sepi suram mulai berlalu dan bergantiu dengan komplek perumahan kami. Aku dan bunda mengantar Fana yang rumahnya hanya selisih enam rumah dari rumah kami. Pukul 18.45 kami tiba di rumah. Sholat maghrib meski sedikit telat kemudian makan malam dengan masakan bibi.
“Bunda, tadi bunda ngomong apa sama Fana ?” aku membuka percakapan di meja makan itu, “Oh, tadi itu bunda Cuma nanya kenapa Fana bisa ada di situ selebihnya rahasia deh,” terang bunda. “yah, bunda kok gitu sih ? terus apa jawaban dia, Bun ?” lanjutku. “Fana bilang, dia habis ngaji dari perumahan sebelah. Dan karena HP dia rusak dia nggak bisa minta jemput ayahnya. Akhirnya dia pulang sendiri deh.” Jelas bunda santai. “Oh, gitu toh, mesyi – mesyi.” Tanggapku menutupi rasa bersalah.
“Selesai  makan aku masuk kamar. Aku bagai dipenjara dalam siksaan batin rasa bersalah. Karena aku HP Fana rusak. Sampai-sampai ia dijahili preman begitu.” Pokoknya, aku harus mengganti HP Fana !!” janjiku dalam hati.
Pagi harinya aku pergi ke mall. Aku cari handphone shop paling berkualitas. Setelah lama mencari, akhirnya ketemu juga. Dengan uangku yang insya Allah cukup, aku membeli HP untuk Fana. Iphone 3G, sama persis dengan dengan punya fana yang dulu.
Pulang dari mall, aku langsung menuju rumah Fana. Namun betapa kecewanya aku, tak kudapati ia disana. Kata bibinya Fana pulang ke Jogja tadi pagi-pagi sekali dan baru akan kembali ke Jakarta pada hari kelulusan nanti.
Ku bersabar menantinya, meski hari kelulusan kurang empat hari lagi, tapi rasanya lamaaa sekali. Rasa bersalahku tak kunjung mau pergi bahkan semakin menghantui.
Untuk menghibur diri, kulewati empat hari itu dengan mainan laptop. Kemarin aku sempat bertanya apa nama akun fb Fana pada teman sekelasnya. Pada kolom search aku ketik, “R. Elfana” ketemu, ada fotonya dengan senyum manis yang khas dan selalu menghias wajahnya. Aku add dia, namun tak kunjung dikonfirmasi.
Empat hari berlalu, hari kelulusan tiba. Bersama bunda aku berangkat ke sekolah. Apapun hasil dari ujianku akan kuterima apa adanya. Tuhan maha tahu apa yang terbaik untukku.
Bunda masuk kelas, aku pun menunggu di luar dengan hati yang berdebar. Ketika bunda keluar, beliau tersenyum, memelukku dan berkata, “Selamat nak! Kamu lulus!! Rata-rata kamu 9,1!!”
Seketika aku bersujud dan tak henti mengucap kalimat syukur kepadaNya. Hingga bulir bening ini menetes begitu saja. Aih, aku hampir lupa kalau aku harus mencari Fana. Aku minta bunda menunggu di mobil sementara aku mencari gadis bersenyum manis itu.
Aku cari dia di kelasnya, XII B tapi tak ada. Seluruh kelas aku obrak abrik tak ada juga. Aku keliling sekolah, masih tak kudapati ia. Pada akhirnya aku menjelajah koridor di mana aku dan Fana pernah tabrakan. Berharap menemuinya, walau harus tabrakan lagi. Tapi apa yang aku dapati? Batang hidungnya pun tak nampak di sana.
Aku pulang dengan kecewa. Di parkiran aku bertemu dengan Pak Sulistiyo, ayah Fana, aku tanyakan di mana Fana. Dan ternyata Fana tak ikut ke Jakarta. Ia lebih memilih tinggal di Jogja. Tanah kelahirannya dan melanjutkan pendidikannya di UGM Yogyakarta.
Aku tidak tinggal diam. Sebelum keberangkatanku menuju SEOUL untuk mengeruk ilmu didampingi Tante Tara dan suaminya yang juga akan tinggal di sana karena urusan pekerjaan. Pokoknya kau harus mengganti HP Fana!! Akhir Juni aku menyusul Fana ke Jogja.
Sendiri aku mengendarai mobil berbekal kertas bertuliskan alamat pemberian Pak Sulistiyo. Pagi buta aku tiba di kota Jogja. Kebingungan mencari rumah Fana. Pukul delapan pagi barulah aku menemukan rumahnya yang terletak di kawasan Pojok Beteng Wetan.
Seakan kecewa tak ada habisnya melanda. Hanya ada simbok di sana, dan simbok bilang sejak tiga hari yang lalu Fana dirawat di rumah sakit                      dr. Sardjito karena menderita gagal ginjal. Betapa kaget aku mendengar berita itu.
Tanpa ba bi bu aku langsung meluncur ke rumah sakit. Cukup pusing juga mencarinya karena aku bukan orang jogja. Setiba di sana kutemui ayah dan ibu Fana. Raut muka mereka tampak sangat cemas. Fana kritis!!!
Setelah menunggu cukup lama hingga senja menjelang, Fana berhasil melewati masa kritisnya. aku diijinkan masuk ke ruang opname Fana. Aku bertemu dengannya. Tanpa basa basi langsung aku berikan iPhone 3G pengganti yang dulu pernah aku rusak.
Tak kuduga ia menerima dengan sangat bahagia, tidak ada penolakan sama sekali. Ia buka kardusnya dan memakainya untuk foto-foto narsis. Aku bilang, “Fan, ternyata waktu sakit kamu masih sempet narsis yah…” dia hanya tersenyum. Dan senyum manis itu menghiasi seluruh fotonya dalam HP. Tak lupa ia mengajakku foto bersama, meski hanya ada satu dua jepretan. Tapi itu cukup untukku.
Setelah puas foto-foto, Fana memindahkan sebuah lagu dari MP3-nya. Entah lagu apa aku tak tahu. Karena Fana harus istirahat, aku tak bisa lama-lama di ruang opnamenya, begitu pun orang tua Fana. Kami keluar, Fana pun tidur.
Sekitar pukul tiga dini hari, samar-samar dalam tidurku yang bersandarkan tembok ruang tunggu beserta kursinya aku mendengar suara orang menangis. Ternyata benar, ibu Fana menangis karena Fana kritis lagi. Aku pun ikut merasa cemas, rasanya ngilu sekali hati ini mendengarnya.
Pada akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke mushola dan sholat tahajud. Setelah itu aku dan orang tua Fana bersama-sama merenung. Jika memang ini yang terbaik untuk semua aku ikhlaskan Fana, meski aku belum mengenalnya dan ingin mengenalnya lebih jauh sebetulnya. Tuhan berkehendak lain, Tuhan tak ingin aku memiliki Fana. Tuhan hanya ingin aku bertemu dengan Fana untuk belajar darinya. Belajar tentang ikhlas. Belajar untuk tak banyak bicara dan belajar untuk ramah kepada siapa saja.
Tidak sepertiku saat ini, yang senyum saja pelitnya bukan main. Aku yang sehat tak pernah bergaul dengan teman maupun tetangga. Tapi Fana yang sakit, begitu semangat menebar senyum di setiap kesan perjumpaannya dengan siapa saja. Hingga ia memiliki banyak teman yang akan selalu mengenang akhlak indahnya. Meski gerakannya sangat dibatasi namun ia tetap berusaha untuk bersosialisasi.
Sekitar pukul 04.00 WIB, dokter keluar dari ICU. Tak banyak berkata, bu dokter langsung menyampaikan permohonan maafnya. Permohonan maaf karena tak mampu mengubah takdir Tuhan untuk memanggil Fana ke Arrasy-Nya. “Saudara Elfa, apakah ada di sini” tanya bu dokter. “Iya, saya Elfa bu” sahutku. Sebuah kotak kecil bu dokter serahkan padaku. Kotak itu berisi iPhone 3G yang aku beli dan selembar surat. Pada kotak surat tertulis “untuk sahabat sekilasku, Elfa”
Sahabat? Jadi selama ini dia menganggapku sebagai “sahabat”. Surat darinya pun tak lebih dari surat seorang sahabat. Dalam suratnya ia memintaku untuk menjadikan foto penuh senyum dalam HP-nya sebagai kenangan seorang sahabat, tak lebih. Dan ketika aku sudah menemukan pendamping hidup kelak, ia memintaku menghapus semua file foto yang ada.
Sembari meratapi kepergian Fana, dalam perjalananku menuju Jakarta tak bosan aku mendengar lagu yang Fana pindah dari MP3-nya sebelum ia pergi ke pangkuan-Nya.

”I remember...The way you glanced at me, yes I remember
I remember...When we caught a shooting star, yes I remember
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn….”

Kamis, 22 Desember 2011

Cerpen 2# Bukan Masalah

Debu-debu atmosfir berlomba mengukir indah rona senja di sudut barat kota Kairo. Membenamkan diriku seiring terbenamnya matahari dilahap rotasi bumi. “Tok, tok,tok. Jeglek!!!” suara pintu kamarku terbuka. Terlihat bibiku ramah berdiri di ambang pintu dengan balutan jilbab panjang dan gamis abu-abunya. Buru-buru aku menutup laptop sembari menghapus bulir bening kerapuhanku. “Eh, bibi… mmh, afwan, Bi. Lukman terlalu serius mengerjakan tugas jadi nggak dengar bibi mengetuk pintu.”

“Nggak apa-apa. Justru Bibi Salamah yang minta maaf karena masuk kamar tanpa izinmu. Kamu kenapa Lukman?” Tanya bibi tiba-tiba. “Kenapa a a apanya, Bi? Lukman nggak kenapa-napa kok. Ana bi khair,” jawabku lirih.

“Jangan berbohong pada bibi, Lukman. Nggak mungkin kalau nggak kenapa-napa kamu bisa sesedih ini,” bantah bibi lembut. Ternyata bibi sempat melihatku menangis. “Lukman tahu, kan? Di sini bibi bertanggung jawab atas diri Lukman pada orang tua Lukman. Bibi nggak mau mngecewakan orang tua Lukman yang telah memberi amanat untuk merawat dan menjagamu  selama di Kairo. Maka Lukman, apa pun yang terjadi ceritalah pada bibi,” tutur bibi. Namun aku masih terpaku menahan haru.

“Lukman, masalah itu tak akan pernah terselesaikan jka hanya dipendam dan ditangisi. Bagilah masalah itu dengan orang lain. Dengan bibi misalnya, siapa tahu bibi bisa bantu. Toh, selama ini bibi sudah menganggapmu seperti anak kandung bibi sendiri. Kalau kamu nggak siap cerita sekarang, nanti atau besok juga nggak apa-apa. Insya Allah, bibi akan menjadi pendengar yang baik untuk Lukman, kapan pun itu,” kebijaksanaan bibi selalu membuatku luluh.

“Iya deh, Bi,” singkatku. Perlahan aku buka kembali laptopku yang menampakkan halaman facebook sebuah foto. Foto undangan pernikahan. Aku perlihatkan pada bibi. “Astaghfirullah. Sirina Nilam? Menikah dan bukan denganmu?” bibi kaget dan sepertinya shock. “Yang sabar, Lukman. Biar bibi yang mengurus dan meluruskan,” bergegas keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Mungkin bibi menelpon keluarga Sirina di Indonesia dan menanyakan kebenaran dan apa maksud dari undangan di facebook itu.

Dalam e-mail, Sirina bertutur dengan terbuka tentang ketidak sabarannya terhadap penantian yang cukup panjang ini. Jarak ribuan mil ternyata tak hanya mampu memisah raga kami ternyata juga mampu menghapus kesetiaan salah satu dari kami. Dan perjodohan amanat orang tuaku ini, akankah kandas begitu saja? Disatu sisi aku sadar bahwa mungkin Sirina memang bukan jodohku. Tapi di sisi lain aku takut mengecewakan emak dan bapak karena tak mampu memperjuangkan amanat dari mereka.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Sementara itu kumandang adzan maghrib dari masjid Rabea El Adawea membangkitkan ragaku umtuk segera melangkahkan kaki memenuhi panggilan-Nya. Disaat seperti ini masjid selalu dapat merapikan kondisi pikiran dan hatiku yang semrawut dengan sensasi hawa sejuk alaminya.

Selepas sholat sunah rawatib aku jalan-jalan ke sungai Nil. Nil itu indah sekali ketika malam, apa lagi malam ini adalah bulan purnama. Sungguh menambah pesona dan daya tarik tersendiri bagi Nil. Airnya yang mengalir tenang bersabar menunggu antrian sampai ke muara. Setia mengalirkan air pembawa berbagai zat penyubur ke lahan-lahan pertanian warga di lembah sungai Nil. Aku ingin menjadi sperti Nil, Nil yang sabar, Nil yang bermanfaat, dan Nil yang setia.

“Assalamualaikum..”

“Wa’alaikumsalam. Eh, sudah pulang dari masjid, Lukman?”

“Sudah, Bi.”

“Ayo, makan dulu sini. Bibi masak enak buat kamu. Nih, ada karedok asli resep dari Nini,” ajak Bibi Salamah. Sebetulnya aku tak selera makan, tapi tidak enak pada bibi karena sudah masak spesial untukku. “Makasih ya, Bi,” kataku. “Iya… Ayo cepat dimakan!” bibi menyodorkan sepiring nasi padaku.

“Lukman, hidup itu untuk dijalani, bukan untuk ditangisi, sudahlah santai saja,” Mang Dino tiba-tiba memecah suara denting sendok dan piring. Aku tidak mengerti kenapa Mang Dino tiba-tiba bicara begitu. “Sudah, Akang. Nanti saja kita membicarakannya, biarkan Lukman makan dulu,” sergah bibi. “Aya naon, Mang? Ngomong sekarang ajah, nggak apa-apa atuh, kan malah lebih santai dan tidak terlalu serius. Mangga…” aku mempersilahkan.

“Betul kata Lukman, Salamah. Ngobrol di sini akan lebih santai.”

“Nggak! Nanti saja, nggak baik ngomong sambil makan,” Bibi Salamah tegas.

“Ya sudah, nanti saja ya, Lukman,” Mang Dino menunda niatnya.

Aku hanya mengangguk-angguk saja tanda setuju. Ruang makan keluarga kami terasa hangat dengan candaan Mang Dino di tengah malam yang dingin cuaca padang pasir.

Makan malam terasa cepat dan Mang Dino memulai petuahnya, “Nah Lukman, Mang Dino hanya mau berpesan kepadamu. Ini bukan masalah, Lukman. Selesaikanlah kuliahmu, jangan hanya karena kejadian ini nilaimu jadi terganggu. Jangan sampai targetmu untuk lulus dengan nilai mumtaz jadi terbengkalai.”

“Tapi bagaimana dengan emak dan bapak, Mang?” aku kalut. “Masalah emak dan bapak, mereka akan baik-baik saja, Lukman. Yang penting kamu belajar rajin di sini ya,” jelas Mang Dino.
“Baiklah, Mang. Barang siapa menghendaki bahagia di dunia dan di akhirat bukankah wajib baginya menuntut ilmu?” aku ikhlas.

“Betul sekali, Lukman. Tuntutlah ilmu selagi kau mampu, terapkan dan bagikan ilmu itu dalam bingkai keimanan,” tutup Mang Dino. Aku mohon ijin ke kamar lebih dulu untuk istirahat setelah sesiang dan sesore tadi lelah kuliah dan penat dengan masalah Sirina.

Sejujurnya aku masih cinta pada Sirina, aku pun tak habis pikir mengapa Sirina dengan mudahnya melupakan janji setia kami dulu. “Ya Allah, beri aku hati yang lapang dan ikhlas. Aku yakin Engkau pasti lebih tahu mana yang terbaik untukku,” doaku menutup hari dan bergegas ke alam mimpi.

Malam yang larut perlahan beranjak pada subuh yang syahdu. “Allahu Akbar Allahu Akbar…” adzan shubuh membuatku terjaga. Hari Jum’at yang indah. Ah, entah mengapa hari Jum’at itu selalu menjadi hari yang indah buatku. Seperti biasa, pagi ini aku pergi ke masjid Rabea El Adawea untuk sholat shubuh berjamaah. Hari ini aku tidak ada kuliah, rencananya akan aku manfaakan hari ini untuk jalan-jalan ke kawasan Hadiqah Azhar alias Azhar Park. Sekedar refreshing.

Ya, kali ini Hadiqah Azhar tidak terlihat hijau namun sedikit kuning atau bahkan coklat disebabkan dedaunan yang mengering. Luruh satu-satu. Bahkan ada pohon yang telah gundul tanpa daun namun masih terdapat sel-sel hidup di dalamnya. Penghujung musim gugur.  Angin yang bertiup membuat tubuh kurusku menggigil kedinginan.

Hadiqah Azhar tetap Hadiqah Azhar, meski di ujung autumn yang begitu dingin namun tetap memiliki pengunjung yang tak sedikit. Banyak kanak-kanak bermain di sana, berlari-larian, berteriak-teriak dengan sesama teman kanaknya atau bahkan saudaranya. Menjerit, jatuh, dan mendekap dalam peluk ibunya. Ah, kanak-kanak memang dunia yang menyenangkan.

Hari beranjak dhuhur. Puas aku melihat pemandangan autumn elok di Hadiqah Azhar, aku melanjutkan perjalanan menuju Port Said setelah sebelumnya mampir di masjid Al-Azhar untuk sholat dhuhur.

Ke Port Said, ya untuk apa lagi kalau bukan menghabiskan sesiang, sesore, dan sesenjaku di sana. Port Said adalah kota di ujung Terusan Zues. Menurut sejarah Terusan Zues dibangun oleh seorang bernama Ferdinand de Lessep. Namun konon katanya jejak-jejak  Terusan Zues telah ada sejak zaman Fir’aun, Fir’aun ke berapa tidak ada penjelasan. Dan Ferdinand de Lessep tinggal meneruskannya. Wallahualam bissawab.

Port Said menjadi kota pelabuhan di Mesir. Selalu ramai dengan kapal-kapal pesiar yang mampir membuang sauh. Mebawa ribuan turis asing yang kaya-kaya. Ah, ya kebanyakan dari mereka berasal dari Eropa. Kok mereka bisa berlibur di tengah krisis sih? Haha entahlah.

Sang surya beranjak semakin ke barat menandakan hari semakin sore, sholat asar pun tak lupa telah aku kerjakan di masjid setempat. Langit pun semakin oranye keemasan. Subhanallah indahnya pantai di sisi laut mediterania ini. Aku suka suasana seperti ini, pelabuhan yang banyak orang mulai semarak dengan lampu-lampu jalan yang lekas dinyalakan. Keramaian di tengah hiruk pikuk kesibukan banyak orang. Aku suka ramai, meski dalam hatiku sungguh terasa sepi.
Isyak, aku baru sampai rumah. “Makan dulu, Lukman,” ajak bibi. “Tidak, Bi. Baru saja Lukman makan, masih kenyang,” jawabku sekenanya. Setelah permisi aku langsung naik ke lantai dua untuk masuk kamar dan istirahat. O iya, sholat isya’ juga tentunya.

Pegal sekali rasanya setelah jalan-jalan seharian. Meski hanya dua objek. Sebetulnya masih ingin juga pergi ke suatu tempat lagi. Yaitu Sakakini Palace, katanya sih tempatnya romantis. Tapi, untuk apa sih romantis dalam diriku. Lumayan juga, menyibukkan diri seharian membuatku sekilas lupa dengan Sirina. Ah, sudah. Tidak usah diingat-ingat lagi.
Dari jendela aku pandang langit Kairo, dari jendela pula angin musim dingin mulai bertiup mengganti udara di kamarku. Kawan, jangan harap musim dingin di Kairo ada salju. Salju hanya ada di gunung, tidak seperti di Amerika atau negara-negara Eropa yang saljunya jatuh sampai mencium tanah.

Suara angin berdenging menjadi back sound yang mengiringi tidurku. Lelap sekali aku tertidur di bawah selimut tebal, meski dingin masih saja menusuk. Dalam dingin yang menggigil aku bermimpi, Sirina telah bahagia menikah dengan lelaki pujaannya. Senyumnya mengembang penuh binar bahagia di pelaminan. Sementara aku di Kairo gagal menyelesaikan tesis. Sungguh, mimpi yang amat buruk.

Di shubuh yang gigil itu aku bangun. Segera menunanaikan kewajiban, meski brrrr yang tak tertahan hingga membuat gigi gemelutuk.

Winter ya, itu berarti waktu bermalas-malasan. Hey, bukankah sebagai umat muslim kita tidak boleh bermalas-malasan? OK, kalau begitu, it’s time to online full. Hahaha. Lebih banyak waktu musim dingin aku habiskan dengan membaca muqoror yang tak jelas tulisannya dan aku tak mampu membacanya. Lebih parah dari aksara Jawa pokoknya. Tapi, mau bagaimana lagi? Ujian sebentar lagi akan datang, mau tidak mau harus dilahab muqoror yang banyak dan tidak jelas bacanya apa.

Musim dingin kali ini sedikit diwarnai duka. Duka oleh meninggalnya Syaikh Al-Azhar, Syaikh Imad Iffat (salah satu pengajar tallaqi di Masjid Al-Azhar juga dosen di lembaga fatwa Mesir). Syahid ketika mencoba menenangkan domonstran yang bentrok dengan aparat. Juga, duka akibat peristiwa bunuh diri. Ini bukan bunuh diri seseorang, namun bunuh diri suatu negara. Peristiwa pembakaran perpustakaan yang berisi lebih dari 200.000 buku serta dokumen-dokumen penting negara. Bukankah itu membunuh sejarah peradaban bangsa?

Mengenaskan sekali, kapan negara ini akan bisa tenang? Bukankah Mubarakh sudah lengser? Bukankah pemilu baru saja dilaksanakan? Oh aku lupa, masih ada rezim militer yang berkuasa di sini, yang belum mampu memenuhi kepuasan rakyatnya. Atau bahkan malah menjadi musuh bagi rakyat. Aku tak mengerti, sungguh tak mengerti.
Sudahlah, lebih baik aku memkirkan ujianku saja, yang tinggal menghitung minggu. Muqarar yang menggunung belum dibaca. Butuh waktu untuk memahaminya, Biarkan aku tengelam di balik tumpukan muqoror itu.

Tak terasa, waktu yang dulu terlihat begitu panjang kini telah mendekat menjadi begitu pendek. Ujian telah tiba. Tidak ada remidi di Al-Azhar , Kawan. Kalau ada tiga saja mata kuliah yang tak tuntas/lulus, maka kau harus mengulang tahun depan. Dag, dag, dag. Dig, dig, dig. Dug, dug,dug. Dag, dig, dug, bedug dong. “Lukman El-Maghriby,” namaku telah dipanggil dosen dalam ujian lisan kali ini.

Satu persatu pertanyaan yang dilontarkan dosen aku jawab panjang kali lebar sama dengan luas. Sebisaku, semampuku, seingatku, dan sepahamku tentang materi yang ia tanyakan. Keringat dingin mentes di pelipisku, juga di dadaku terasa sekali aliran tetes itu. Memang ada pertanyaan dosen yang aku menyerah tak mampu menjawab, tapi tak banyak.
Ketika bibi bertanya saat aku tiba di rumah, “Bagaimana ujiannya, Lukman?” Dengan sumringah aku menjawab, “Hamdulillah, mumtaz, Bi!” Itu terjadi hampir setiap aku pulang dari kampus.

Alhamdulillah ya Rabb, mimpi buruk itu tak terjadi. Singkat cerita ujianku rampung, tepat di hari terakhir ujian setelah ujian aku menyempatkan diri jalan-jalan. Wah, jalan-jalan terus yah. Memenuhi hasratku yang ingin berkunjung ke tepian sungai Nil- tak jauh dari rumah. Dalam perjalanan kubayangkan riaknya yang mangalir, syahdu. Membuat hati merasa damai. Baru dibayangkan.

Begitu sampai di sana… ada wanita yang sedang duduk selonjor memunggungi arah datangku. Jilbabnya lebar, hijau lembut dibordir motif bunga sekelilingnya. Apa? Motif itu? Bukankah, itu motif kreasiku ketika aku belajar mengoperasikan mesin bordir dulu? Dan jilbab itu, kain pertama yang sempurna berhasil aku bordir, lalu saat itu aku berikan pada… siapa lagi kalau bukan… Sirina.

Ah, tidak mungkin!!! Sirina kan sudah menikah. Mana mungkin dia nyasar sampai sini. Suaminya juga bukan mahasiswa Al-Azhar. Untuk apa dia kemari? Lagi pula, mungkin motif yang aku buat itu terlalu pasaran. Jadi, banyak sekali jilbab bermotif seperti itu.

Tapi bagaimana kalau benar dia Sirina? Dari posturnya memang mirip. Aku ingat betul, meski sudah bertahun-tahun lalu terakhir aku memandangnya. Tapi untuk apa dia di sini? Sedang bulan madu mungkin di Kairo. Atau suaminya sekarang pindah kampus. Bisa juga suaminya kerja di sini. Hal-hal aneh ini terus menghantui, membuatku penasaran siapa wanita ini sebetulnya.

Tapi biarkan sajalah. Malas aku menyapanya, kalau bukan Sirina aku malah jadi malu nanti. Kalau Sirina, aku terlanjur sebal padanya, malas juga bicara dengannya. Biarlah aku kehilangan tempat favoritku. Lagi pula sungai ini kan panjang. Terpanjang di dunia malah. Jadi aku masih bisa cari tempat lain.

Bersama dekak sepatuku, aku meninggalkan tempat itu. Tanpa sedikit pun melirik wanita itu. Tiba-tiba…
“Lukman, mau ke mana?” suara wanita. Jangan-jangan wanita yang duduk selonjor tadi, yang pakai jilbab hijau lembut tadi. Kok dia mengenalku? Mungkin salah orang. Biarkan sajalah, pura-pura tidak dengar.

“Lukman, Lukman, Lukman, Lukman El-Maghriby,” ya ampun, sampai empat kali menyebut namaku. Lengkap lagi. Tidak, bukan, pokoknya bukan Sirina. Langkahku semakin cepat, tegap, dan lebar.

“Tunggu Lukman. Kumohon, berhenti! Berhenti! Aku mohon,” seperti suara rintihan. Aku tak tahan jika harus mendengar rintihan wanita yang akan menangis. Hatiku juga beregejolak sebetulnya ketika wanita itu memanggilku. Mirip suara Sirina. Maka kuputuskan untuk sekedar menoleh.

Jeng-jeng, Ya Rabb. Aku menelan ludah. Untuk apa dia ke sini? Belum puaskah telah menyakiti hatiku. Menggalikan lubang besar yang menganga dipermukaannya. Belum cukupkah? Apa masih ingin memperlebarnya sampai hatiku habis tak tersisa dimakan oleh lubang galiannya?

Sungguh, kedatangannya membuatku badmood. Aku memilih pulang. Tapi Sirina tetap mengejarku. “Aku mohon, STOP! Jangan kejar aku!”

“Aku yakin kamu juga pasti sudah mengerti. Kamu istri orang. Jangan mengejarku lagi dong,” tegasku padanya.

“Lukman, siapa yang istri orang? Nih, lihat KTP-ku! Statusnya belum kawin.”

“Lalu apa maksud undangan itu, Sirina? Bukankah kau juga tahu bahwa aku mencintaimu. Tapi kenapa kau tega melakukan itu, mem-publish undangan sekenamu, di facebook pula?” tanyaku.

“Lukman, aku hanya bercanda,” kata Sirina enteng.

“Hah? bercanda katamu? Bercanda sampai segitunya? Kelewatan kamu, Sirina!”

“Lukman, kamu kan juga tahu bahwa aku sedang mengawali bisnisku. Wedding organizer. Aku hanya promosi undangan, Lukman. Dan yang kamu lihat itu salah satu samplenya,” jawabnya.

“ Lalu, bagaimana dengan e-mail itu? Kau bilang lelah menungguku…”

“Tapi aku tak bilang akan meninggalkanmu kan? Maka dari itu kali ini aku menyusulmu. Guna merayakan kesuksesanmu dalam ujian juga.”

“Iya. Tapi kenapa bibi dan paman tidak berkata seperti itu?”

“Yang benar? Padahal dalam telpon aku telah menjelaskan panjang lebar tentang salah paham ini,” Sirina kaget.

“Baiklah, ayo kita pulang!” ajakku.

Setibanya di rumah, paman dan bibi menyambut meriah kami yang berjalan depan belakang, tidak berjajar. “Wa’alaikumsalam, eh ponakan bibi sudah pulang. Sini ayo, langsung saja kita makan ya? Bibi sudah masak makanan kesukaan kamu lho, Lukman,” ajak bibi setelah menjawab salamku.

“Tunggu, Bi. Maaf Lukman lancing, kenapa bibi tidak menjelaskan pada Lukman tentang salah paham antara aku dan Sirina, Bi? Kenapa Bi?”

“Oh, soal itu. Bukankah dulu paman sudah menjelaskan padamu?” bibi bertanya balik.

“Paman? Menjelaskan? Kapan, Bi?”

“Dulu, sewaktu kita habis makan malam. Ya, malam saat kamu galau habis-habisan gara-gara undangan Sirina yang untuk promosi itu,” Jelas bibi.

“Maksud bibi?”

“Iya, paman kamu kan dulu sama sekali tidak menyinggung tentang pernikahan Sirina kan? Hayo? Dia hanya bilang kalau ini semua bukan masalah. Dan kamu diminta fokus untuk kuliah, yak an? Iya tidak?” bibi nerocos.

“Hehe, berarti Lukman yang nggak paham ya, Bi?”

Cekikikkan membahana di rumah itu mengiringi permintaan maafku pada Sirina yang selama ini telah aku anggap yang tidak-tidak.


#NB: Mohon maaf bila terdapat banyak keasalahan deskripsi. Karena saya pun belum pernah datang ke tempatnya.
oiya, mohon dikritik juga ya:) eh iya, hampir lupa ssya mau bilang. Tulisan ini banyak terinspirasi(baca:plagiat) dari note-note kakak-kakak masisir yang saya baca, hehe peace ya Kak:)Yang tidak terima silahkan lempar saya dengan uang:)

Senin, 08 Agustus 2011

Cerpen 1#Terima Kasih, Allah


“Huuu, dingin!!! Brr!!” keluh Ziyas dari balik rumah kardusnya. Jam taman kota menunjukkan pukul 03.00 WIB. “Krucuk-krucuk,” ada sesuatu yang berbunyi di dalam perut Ziyas. “Aduh, sudah waktunya makan sahur. Perutku lapar sekali setelah maghrib tadi tak satu pun makanan masuk dalam perutku. Lebih baik aku cari saja,” gumam Ziyas.

Di sepanjang jalan taman kota yang lembab karena embun, Ziyas menyusuri dengan mata jelalatan mencari makanan ‘sisa’. “Aha!! Ada tempat sampah,” soraknya gembira. Dengan tangannya yang lihai dan cekatan, Ziyas mengais-ngais isi tempat sampah itu. Tak lama kemudian ia menemukan dos makan kuning bertuliskan “Yogya Chiken”. Di dalamnya masih terdapat nasi separuh porsi, sambal yang bercecer dan tulang ayam dengan sedikit daging yang menempel. Tanpa ba bi bu Ziyas memakan temuannya dengan lahap. Tanpa cuci tangan, dengan baju compang camping lesehan di latar taman kota.

Tiba-tiba,”Nak, itu kan makanan kotor. Kenapa kamu makan?” Tanya seorang ibu tak dikenal. “Biarlah, Bu. Tidak apa yang penting perut saya bias diganjal,” jawab Ziyas sekenanya. “Kenapa tidak beli yang lebih bersih?” ibu itu mencari tahu. “Saya tidak punya uang, Bu. Setelah kemarin hasil ngamen saya dipalak preman daerah sini,” tutur Ziyas sedih. “Ya Allah, kasihan sekali kamu. Di mana orang tuamu, Nak?” ibu itu heran bercampur iba. Hening sejenak, kemudian terdengar hembusan nafas berat dari Ziyas. “Oh, maaf jika ibu menyinggung perasaanmu, Nak,” kata ibu itu buru-buru. “Tidak, Bu. Saya dibuang,” terang Ziyas ringkas mencoba tabah.

“Maaf, Nak jika ibu membuatmu sedih. Ini, ibu ada sedikit nasi dan lauk untukmu. Diterima ya,” ibu itu menyerahkan rantang bawaannya. Sebelum Ziyas sempat berterima kasihibu itu telah jauh berlalu.

Ziyas buka rantang bawaan ibu itu, berisi oseng tempe, mendoan, ayam bacem dan kerupuk. “Alhamdulillah, subhanallah… trima kasih ya Allah, Engkau telah member Ziyas makanan enak,” sebutnya. Ziyas makan dengan lahap. Tapi belum habis sepermempat porsi sudah ada orang yang mengusiknya. “Heh, dapet makanan enak dari mana loe? Sini bagi ke gue!! Kata seseorang bercelana jeans robek-robek, berantai, dan berjaket kumal tak pernah dicuci.

“ Eh, enak aja. Ini kan punyaku. Kalau mau minta baik-baik dong, kalau cara kamu nggak baik cari aja sendiri,” sergah Ziyas. “Berani loe ama gue. Kasiin cepet!!” perintah preman itu. “Enggak!!” bantah Ziyas. “Kurangajar loe,” tanpa diduga-duga benda mengkilat muncul dari saku celana jeans si preman. Satu jurus saja, perlahan namun berkelabat begitu saja dn benda itu bersarang di perut kiri Ziyas. “Aaaaaaaaaa!!!” teriak Ziyas. Tanpa berpikir lebih lama, si preman berlari tinggalkan Ziyas yang terkapar. Dalam gelap subuh-Nya, mengerung rana tangisan bocah tak berdosa menjemput ajalnya dengan tegar. “Allah, terima kasih atas rizki-Mu pagi ini, lailahailallah…